Selasa, 19 Zulhijjah 1440 / 20 Agustus 2019

Selasa, 19 Zulhijjah 1440 / 20 Agustus 2019

Kementan Akui Kemarau Berdampak ke Produktivitas Pertanian

Jumat 05 Jul 2019 20:17 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Volume air di Situ Gede Kota Tasikmalaya mengalami penyutan selama musim kemarau, Rabu (3/7).

Volume air di Situ Gede Kota Tasikmalaya mengalami penyutan selama musim kemarau, Rabu (3/7).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Kementan mengakui adanya penurunan produksi akibat kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dampak kemarau yang menyebabkan sejumlah lahan pertanian di beberapa wilayah diklaim pemerintah tidak terlalu berpengaruh terhadap produktivitas pertanian. Hanya saja, Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui sedikit banyak ada dampak yang terjadi terhadap produktivitas pertanian.

Direktur Jenderal Sarana dan Prasarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy mengatakan, kemungkinan terdapat penurunan produktivitas pertanian di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan. Hanya, dia memastikan, pemerintah terus berupaya mengoptimalisasi infrastruktur pertanian dan akses teknologi mekanisasi terhadap sawah yang terdampak.

Baca Juga

“Yang namanya penurunan produksi ya ada saja, hanya kan tidak signifikan,” kata Sarwo saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (5/7).

Terkait mahalnya biaya produksi pertanian akibat dampak kemarau yang dikeluhkan petani, hal itu menurut Sarwo merupakan keluhan yang dimaknai sebagai perlunya penyaluran bantuan dari pemerintah terkait alat mesin pertanian (alsintan) kepada petani. Menurut dia, meski pemerintah sudah berupaya mengoptimalisasi penyaluran alsintan, di beberapa wilayah masih terdapat penyaluran yang belum merata.

Optimalisasi penyaluran alsintan, kata Sarwo, akan terus diupayakan mengingat bencana kemarau diprediksi akan berlangsung panjang. Selain penyaluran alsintan, pihaknya juga mengimbau kepada petani untuk mengikuti program asuransi lahan pertanian. Sebab, premi yang dibayarkan petani dari asuransi tersebut diklaim terjangkau.

“Preminya itu hanya Rp 36 ribu per hektare, sedangkan nanti petani bisa mengklaim lahan yang terdampak bencana hingga Rp 6 juta per hektare,” kata dia.

Dia menyebut, saat ini upaya penanganan Kementan terkait bencana kemarau adalah mengoptimalisasi program pompanisasi dan menyingkronkan langkah-langkah dengan dinas pertanian di wilayah terdampak. Menurut dia, dalam jangka pendek program tersebut akan dioptimalkan mengingat saluran irigasi di sejumlah lahan sudah terpantau mengalami kekeringan.

“Antisipasinya lanjutannya baru mau kita di lingkup internal kita,” kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA