Kamis, 5 Jumadil Akhir 1441 / 30 Januari 2020

Kamis, 5 Jumadil Akhir 1441 / 30 Januari 2020

Bertafakur dan Merenungi

Jumat 05 Jul 2019 05:10 WIB

Red: Agung Sasongko

Mengingat Allah Ilustrasi.

Mengingat Allah Ilustrasi.

Foto: ANTARA FOTO/Jojon
Umat Islam disuruh untuk bertafakur dan merenungi ciptaan Allah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena penciptaan alam semesta beserta segala isinya adalah bukti nyata Kemahakuasaan Sang Khalik. Orang beriman sebagai makhluk yang berpikir disu ruh untuk merenungi, betapa hebat ke kuasaan Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu.

Ahli agama dan filsafat tempo dulu sudah bertafakur tentang hakikat alam semesta. Banyak orang yang akhirnya me nyadari keberadaan Tuhan dengan merenungi ciptaan-Nya. Seperti Nabi Ibrahim AS yang juga menemukan Rabbnya melalui tafakur.

Bertafakur dan merenung adalah model berpikir yang dianjurkan dalam Islam. Seperti Firman Allah SWT, “Sesungguhnya da lam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Mereka berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua, dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran [3]:190-191).

Ayat ini menyuruh umat Islam untuk merenungi fenomena yang terjadi di alam semesta. Tujuannya, agar bertambah keimanan di dada seorang hamba setelah ia menyadari betapa hebat kuasa Allah SWT yang mengatur alam tempat ia berada.

Rasulullah SAW dalam Hadisnya juga mengatakan, “Merenung sesaat lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan oleh dua jenis makhluk (manusia dan jin).” (HR Ibnu Majah). Artinya, Allah SWT lebih menghargai orang yang bertafakur dan menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk dan Allah SAW sebagai Khalik. Ketimbang seseorang yang hanya sibuk beribadah tanpa menyadari untuk siapa ia melakukan itu.

Umat Islam disuruh untuk bertafakur dan merenungi ciptaan Allah dan dilarang untuk memikirkan Zat Allah SWT. Kerdilnya ilmu yang dimiliki manusia tidak akan sanggup untuk membahas Zat Allah yang Maha Luas. Alquran menegaskan, berpikir dan merenung tentang kejadian alam dengan segala fenomenanya ini dapat dijadikan tanda adanya sang Pencipta, yaitu Allah SWT.

Dalam konsep kaum sufi , tafakur tidak hanya sekadar untuk mengetahui dan menetapkan adanya Tuhan, tetapi lebih dari itu, untuk mencari nilai dan rahasia dari sua tu objek yang sedang dipikirkan dan di renungkannya sebagai makhluk yang di ciptakan Tuhan tanpa sia-sia. Filsuf Is lam abad ke-20 Sayid Hussein an-Nasr mengatakan, kosmologi sufi dengan de mikian bertalian dengan aspek-aspek kua litatif dan simbolik benda-benda, bukan dengan aspek-aspek kuantitatif benda- ben da.

Ia menangkap, ada cahaya di atas benda- benda sehingga dengan demikian, benda- benda itu menjadi objek perenungan (ta fakur) yang bernilai, mudah dimengerti serta jernih, dan hilang kekaburan serta ke gelapannya.

Dalam Alquran, ada beberapa ka ta yang memiliki makna sama yang me merintahkan manusia untuk bertafakur. Di antaranya, kata-kata naiara (QS 50: 6-7) dan QS 86: 5-7), tadabbara (QS 38: 29 dan QS 47: 24), faqiha (QS 17: 44), tazakkara (QS 16: 17) dan QS 39: 9) jahirna (QS 21: 78-79), dan aqala (QS 8: 22 dan QS 16: 11-12).

Selain itu, ada pula sebutan-sebutan yang memberi sifat bagi seseorang yang berpikir, yaitu ulu al-albab yaitu orangorang yang berakal (QS 12: lll dan QS 3: 190), ulu al-‘ilm atau orang- orang yang berilmu (QS 3: 18), ulii an-nuha atau orangorang yang berakal (QS 20: 128), dan ulii alabsar atau orang-orang yang mempunyai penglihatan (QS 24: 44).

Kata ayat (tanda) dalam Alquran biasanya dihubungkan dengan perbuatan berpikir atau bertadabur (QS 3: 41 dan QS 19: 10). Biasanya, ayat yang menerangkan tentang fenomena-fenomena alam, akan dipakai kata-kata ayat sebagai indikasi untuk bertafakur. Para mufassir menyebut ayat ini dengan istilah ayat kauniyah.

Ayat kauniyah membahas ten tang kejadian alam (kosmos) yang meng indikasikan ada sesuatu yang terkandung di balik tanda itu. Tanda itu harus diper hatikan dan direnungkan untuk mengetahui arti yang terkandung di dalamnya. Jadi, tafakur atau memikirkan dan merenungkan kosmos ini adalah anjuran yang jelas dan tegas dalam Alquran.

Menurut kalangan kaum sufi , bertafakur adalah suatu jalan untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dalam arti yang hakiki. Imam al-Ghazali mengatakan, inilah yang diwadahi oleh tasawuf untuk merenung dan bertafakur, yang selanjutnya menjadi jalan yang akan membawa pada kebenaran hakiki. Al Ghazali mengatakan, pemahaman, pemikiran, dan perenungan tersebut dimulai dari hati yang berpusat di dada, bukan dilakukan melalui akal yang berpusat di kepala.

Pendapat ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Alquran surah al-Hajj ayat 46, surah at-Taubah ayat 93, dan surah Muhammad ayat 24 yang mengatakan, alat bertadabur adalah hati, bukan akal. Menurut al-Gazali, hati laksana cermin yang dapat menangkap sesuatu yang ada di luarnya. Untuk dapat menangkapnya dengan baik, hati harus bersih dari kotoran dan noda. Maksudnya, hati harus bersih dari berbagai macam dosa.

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA