Senin, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Senin, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Malioboro In Love: Dari Ibu Kudung, Ebiet, Hingga Albar

Jumat 05 Jul 2019 05:17 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Uji Coba Malioboro Bebas Kendaraan Bermotor. Kondisi Jalan Malioboro saat uji coba bebas kendaraan bermotor, Yogyakarta, Selasa (18/6/2019).

Uji Coba Malioboro Bebas Kendaraan Bermotor. Kondisi Jalan Malioboro saat uji coba bebas kendaraan bermotor, Yogyakarta, Selasa (18/6/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Malioboro itu penuh kenangan manis.

Oleh: Doddy Yudhistira Adam, Mantan Media Deveolpment Center The Habibie Center dan Pemimpin Umum Tabloid Musik 'Mumu'.

Malioboro Yogyakarta bagiku adalah bagian dari kehidupanku. Masa kecilku aku senang bila di ajak ibu atau mbah putri ke Malioboro, yang jelas pulangnya selalu bawa mainan dan beli sagu di toko Kawedar yang besok nya dimasak jadi bubur sagu kesukaanku.

Biasanya yang paling menyenangkan ketika ibuku ke toko Kimsin Kecil pasti ibu beli Audecologne 4711 untukku jatah sebulan untuk menghilangkan bau keringatku ketika sekolah. Disamping itu ibu juga suka membeli plat lagu-lagu dari Titiek Puspa atau Lilis Suryani di toko itu. Toko Kimsin saat itu toko penjual plat music satu-satunya di Yogya. Pada masa itu belum ada cassette.

Biasanya ibu juga mampir di toko batik Terang Bulan kulak dagangan. Disini ibu lama memilih batik dan saya selalu di suguhin teh dan lemper oleh pemiliknya yang di panggil Bu Kudung. Bu Kudung bagiku memberikan gambaran ibu Jawa yang Islami dan pandai berdagang, khas wanita jawa!

Malioboro juga menjadi nafas kehidupanku ketika remaja mahasiswa. Hampir sebulan dua kali aku mengunjungi Yogyakarta dari Jakarta. Karena sejak tamat SMP tahun 1970 aku pindah ke Jakarta. Realita lagu Yogyakarta dari Kla Proyek terpancar dari lakuku di Malioboro th 1975-an. Aku waktu itu sering nongkrong di Malioboro malam hari main gitar sama para pengamen Malioboro menyanyikan lagu-lagu Rolling Stones.

photo

Doddy Yudhistira Adam di depan Malioboro Mall. Tak jauh dari situ ada hotel Mutiara yang menjadi milik isterinya.

Di Malioboro-lah para pengamen itu menyebutku artis ibukota. Di Malioboro juga aku kenal mas Ebiet G Ade sampai bersamanya ke Jakarta th 1978 mengantarkan mas Ebiet rekaman di Jakson Record.(lagu Ebiet Album perdananya, Camelia I, sangat khas. Syairnya dan melodinya mengalir khas para seniman Yogyakarta yang kala itu selalu nongkrong di Malioboro. Lagu ini bercerita tentang obsesi Ebiet yang kala itu tinggal indekost di Kadipaten Kulon (dekat Kraton dan Pasar Ngasem) di rumah dengan nomor khas Jogkarta, KP.1/203.

Tahun 1979 aku bersama Iyek (Achmad Albar ) show perdana Rock Never Die di Stadion Kridosono, malamnya kami nongkrong di Malioboro di lesehan Pancarasa di depan hotel Mutiara. Kami nyanyi-nyanyi bersama para pengamen Malioboro sampai pagi. Malam itu Malioboro menjadi panggung kedua bagi kami. Saat itu kami menginap di hotel Mutiara Malioboro, hotel legenda di Malioboro Yogyakarta, (yang akhirnya menjadi milik Istriku ).

Berbagai kenangan indah muncul di Malioboro demikian juga saat sudah jadi 'pejabat'. Pernah lesehan di depan hotel Garuda bersama Prof Emil Salim dan Prof Ichlasul Amal, Affan Gaffar dan berbagai tokoh lainnya. Saat selesai menjadi Ketua hari Pendidikan Nasional yang di Pusatkan di Yogyakarta th 1996 kami pun ber ramai-ramai lesehan di Malioboro bersama Prof Jimly Ashidiqqie, Arselan Harahap dan teman-teman lainnya dari Depdikbud. Kami pun di lukis pensil oleh para pelukis seniman Yogya.

Ketika aku SMP kelas 3 th 1970 di sudut Malioboro ada cafe Wijayakusuma namanya. Itu satu-satunya cafe dengan live music saat itu, tepatnya di Teteg Tugu yang sekarang menjadi taman parkir Abubakar Ali. Hampir setiap hari minggu malam aku mengisi acara di Cafe tersebut bersama band Elpijis pimpinan mas Benny Sarimuljo dan biasa aku membawakan lagu-lagu Rolling Stones atau Bee Gees.

Master Ceremoni di acara di Cafe Wijayakusuma adalah aktor dan tokoh teater Yogyakarta, Azwar AN. Biasanya bung Azwar melawak bersama teman-temannya disana. Dari Malioboro Wijayakusuma Cafe itu uga julukan melekat kepadaku sebagai Doddy Manfaces sebagai Jaggernya Indonesia yang akhirnya memperkenalkanku menjadi vocalis Utama Manfaces Rock Band di Jakarta.

Nah, dari bermusik pula yang mengakrabkanku bersama Deddy Stanzah, Mickey Jaguar ( Machelbech ), Gito Rollies, Silvia Sartje, Renny Djajusman, Bangkit Sanjaya, Totok Tewel dan lainnya. Masa mudaku di musik-lah yang memberikan kenangan terindah dalam hidupku.

photo

Tentara Republik Indoneesia berbaris melewati jalan Malioboro setelah pulang dari gerilya  di Desember 1947.

Kenangan itu lahir dari Jalan Malioboro yang kini menjadi tempat tinggalku di hari tua. Ketika aku beranjak usia, kegemaranku dalam bermusic ku emplementasikan lewat media cetak bersama Tabloid Music MuMu ( th 1997-2003 ). Kala itu MuMu pernah mencapai oplaag 750ribu exemplar.

Dan kini, Allah telah menentukan hai Doddy kembalilah kamu ke Malioboro di masa menunggu akhir panggilan Ku.Kini pun aku benar-benar tinggal di Malioboro Yogyakarta, setelah hidup lebih dari 40 tahun di Jakarta!

Kini waktuku untuk bercengkerama setiap hari bersama anak-anak dan cucu-cucuku yg manis-manis/ Terima kasih Ya Allah! Malioboro in love!

photo

Suasana keriuhan Malioboro saat Yogkarta menjadi ibu kota RI pada tahun 1945-1950.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA