Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Luas Hamparan Es Laut Antartika Menurun Tajam

Rabu 03 Jul 2019 00:19 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Indira Rezkisari

Sebuah kapal menembus es di laut Antartika.

Sebuah kapal menembus es di laut Antartika.

Foto: EPA
Penyebab kehilangan es Antartika yang tajam belum diketahui.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Data satelit menunjukkan, hamparan luas es laut di sekitar Antartika telah mengalami penurunan yang tajam dari 2014. Es meleleh pada kecepatan yang lebih cepat daripada yang terlihat di Kutub Utara.

"Telah terjadi penurunan besar," kata ilmuwan di Goddard Space Flight Center NASA di Amerika Serikat (AS), Claire Parkinson. Dalam studinya, yang diterbitkan dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences, dia menyebut penurunan itu terjadi begitu cepat, dilansir dari Guardian, Selasa (2/7).

"Kami tidak tahu apakah penurunan itu akan berlanjut. Tapi itu menimbulkan pertanyaan mengapa (itu terjadi), dan apakah kita akan melihat beberapa percepatan besar dalam tingkat penurunan Kutub Utara? Hanya catatan lanjutan yang akan memberi tahu kami," ucapnya.

Jatuh dari rata-rata tahunan artinya, Antartika kehilangan es laut sebanyak dalam empat tahun dan Arktik hilang dalam 34 tahun. Penyebab kehilangan es Antartika yang tajam belum diketahui dan hanya waktu yang membuktikan apakah es akan pulih atau terus menurun.

Tetapi para peneliti mengatakan itu menunjukkan es dapat menghilang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Berbeda dengan pencairan lapisan es di darat, pencairan es laut tidak meningkatkan permukaan laut. Tetapi kehilangan es laut putih yang cerah berarti panas matahari diserap oleh perairan lautan gelap, yang mengarah ke lingkaran pemanasan.

Es laut tersebar di wilayah yang luas dan memiliki dampak besar pada sistem iklim global. Kerugian di Kutub Utara terkait dengan cuaca ekstrem di lintang rendah, seperti gelombang panas di Eropa

Hilangnya es laut di Kutub Utara melacak kenaikan suhu udara global akibat pemanasan global yang disebabkan manusia, tetapi kedua kutub itu berbeda. Arktik adalah lautan yang dikelilingi oleh benua dan terpapar udara panas, sedangkan Antartika merupakan benua beku yang dikelilingi oleh lautan dan dilindungi dari pemanasan udara oleh lingkaran angin kencang.

Es laut Antartika telah perlahan-lahan meningkat selama 40 tahun pengukuran dan mencapai rekor maksimum pada 2014. Namun sejak itu luas es laut menukik, mencapai rekor terendah pada 2017.

"Arktik telah menjadi poster child untuk pemanasan global," kata Parkinson, tetapi es laut yang meleleh baru-baru ini di Antartika jauh lebih buruk. Dia telah melacak es laut Antartika selama lebih dari 40 tahun.

"Kita semua para ilmuwan berpikir akhirnya pemanasan global akan menyusul di Antartika," ujar Parkinson.

Kaitlin Naughten, pakar es laut di Survei Antartika Inggris, mengatakan, angin barat yang mengelilingi benua berarti es laut Antartika tidak merespons secara langsung terhadap pemanasan global yang rata-rata di seluruh planet ini.

"Perubahan iklim memengaruhi angin, tetapi demikian juga lubang ozon dan siklus jangka pendek seperti El Nino. Es laut juga dipengaruhi oleh air yang mengalir dari lapisan es Antartika. Hingga 2014, efek total dari semua faktor ini adalah es laut Antartika mengembang. Tetapi pada  2014, sesuatu terbalik, dan es laut telah menurun secara dramatis. Sekarang para ilmuwan berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi," papar Naughten.

Profesor Andrew Shepherd di Universitas Leeds di Inggris mengatakan, "Penurunan yang cepat mengejutkan kami dan mengubah gambaran sepenuhnya. Sekarang es laut mengundurkan diri di kedua belahan bumi dan itu menghadirkan tantangan karena itu bisa berarti pemanasan lebih lanjut."

Penelitian baru ini mengumpulkan data dari 1979 hingga 2018, memberikan pengukuran es laut yang baik karena sinyal yang berbeda dari es dan lautan sangat berbeda. Selain itu, gelombang mikro dapat dideteksi siang atau malam dan biasanya melalui awan.

Es laut mengembang di musim dingin dan mundur di musim panas setiap tahun, sehingga Parkinson menggunakan rata-rata tahunan untuk menilai tren jangka panjang. Penurunan satu tahun terbesar adalah pada 2016, ketika El Nino meningkatkan pemanasan yang disebabkan manusia untuk menghasilkan rekor suhu global.

Dia mengatakan tingkat penurunan setelah 2014 yakni tiga kali lebih cepat, daripada pencairan paling cepat yang pernah tercatat di Kutub Utara. Luas es pada 2019 sejauh ini telah ada pengurangan lebih lanjut.

Parkinson mengatakan penurunan merupakan bukti kuat yang dapat digunakan para ilmuwan untuk mempersempit penyebab perubahan. "Sebagai seorang ilmuwan NASA, tanggung jawab utama saya adalah mengeluarkan data satelit dan saya berharap orang lain akan mencatat rekor 40 tahun ini dan mencoba mencari tahu bagaimana penurunan cepat yang dramatis ini sejak 2014 dapat dijelaskan," kata dia.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA