Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Para Pemburu Trofi di Amerika Selatan

Senin 01 Jul 2019 09:50 WIB

Rep: rahmat fajar/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Para semifinalis Copa America 2019

Para semifinalis Copa America 2019

Foto: DOK. Rep
Para semifinalis datang ke babak empat besar dengan percaya diri.

REPUBLIKA.CO.ID, SALVADOR -- Peru menjadi tim terakhir yang lolos sekaligus kuda hitam pada babak semifinal Copa America 2019. Peru sukses menyingkirkan Uruguay lewat drama adu penalti dengan skor 5-4 pada perempat final di Stadion Fonte Nova Arena, Ahad (30/6).

Setelah kedua tim bermain tanpa gol pada waktu normal, pertandingan harus dilanjutkan ke babak adu penalti. Dengan mengejutkan, striker Barcelona, Luis Suarez, gagal mengeksekusi bola setelah tendangannya berhasil dipatahkan oleh penjaga gawang Peru. Adapun lima penendang La Blanquirroja sukses melakukan tugasnya.

Peru mengawali perjalanan dengan tergabung dalam Grup A bersama tuan rumah Brazil, Venezuela, dan Bolivia. Di klasemen akhir grup, Peru menempati posisi ketiga di bawah Brazil dan Venezuela dengan empat poin. Namun, pasukan Inca berhak lolos ke perempat final sebagai peringkat tiga terbaik bersama Paraguay.

Selama perjalanannya di Copa America 2019 hingga perempat final, dari empat kali bermain Peru menang dua kali, sekali kalah, dan satu kali imbang. Sepuluh gol bersarang ke gawang Peru, sementara sebanyak delapan gol berhasil dicetak Peru.

photo
Fan Peru merayakan keberhasilan tim nasionalnya lolos ke semifinal Copa America 2019.


Striker Peru, Paolo Guerrero, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya setelah memastikan lolos ke semifinal. Dia menyebut kegembiraannya tersebut tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia sangat bangga atas pencapaian timnya.

“Orang-orang mengatakan sebelumnya Uruguay adalah favorit. Namun, menjadi favorit tidak ada artinya di sepak bola, terutama di Amerika Selatan,” kata Guerrero, dikutip the National.

Peru akan menghadapi juara bertahan Cile pada semifinal. Cile tentu bukan lawan mudah karena memiliki pemain-pemain yang merumput di klub top Eropa seperti Alexis Sanchez (Manchester United) dan Arturo Vidal (Barcelona). Sepanjang turnamen Copa America, kontribusi keduanya di tengah lapangan cukup merepotkan lawan.

Cile mengawali pertandingan di Grup C dengan kemenangan meyakinkan 4-0 atas Jepang. Melawan Ekuador, Cile menang 2-1. Pada pertandingan terakhir penyisihan grup melawan Uruguay, Cile kalah 0-1.

Dari empat kali pertandingan yang dilakoni, Cile menang tiga kali dan kalah satu kali dengan kebobolan enam gol dan memasukkan 11 bola. Cile bisa menjadi tantangan sangat berat bagi Peru. Pasalnya, Cile mempunyai ambisi untuk mempertahankan gelar sekaligus menjuarai Copa America tiga kali secara beruntun.

Partai klasik yang banyak ditunggu-tunggu adalah laga Brasil melawan Argentina. Dua tim yang diisi oleh pemain-pemain kelas wahid ini diprediksi laga akan berlangsung sengit. Argentina yang menjadi finalis pada Copa America sebelumnya bertekad mengulangi langkah serupa.


Namun, mimpi Argentina dipastikan tak akan mudah karena Brasil tak ingin kalah dari rivalnya di negaranya sendiri. Argentina tampil kurang meyakinkan pada penyisihan grup B. La Albiceleste lolos ke delapan besar dengan status runner-up. Penampilan sang megabintang, Lionel Messi, juga menjadi sorotan karena belum mampu menunjukkan magisnya seperti saat membela Barcelona.

Messi dan kawan-kawan meraih dua kali menang, satu kali kalah, dan satu kali imbang. Pasukan Tango hanya mampu memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak lima gol dari empat kali pertandingan yang dilakoni sejak penyisihan hingga delapan besar. Adapun gawang mereka kebobolan sebanyak tiga kali.

photo
Bintang Argentina Lionel Messi.


Messi baru mencatatkan namanya sekali di papan skor. La Pulga pun mengakui penampilannya di Copa America tahun ini bukan yang terbaik. "Banyak hal yang bisa saya berikan tetapi semua memang tak mudah," kata dia.

Namun, pelatih Argentina, Lionel Scaloni, membela Messi. Menurut dia, Messi tetap pemain terbaik di dunia dan memberikan dampak hebat kepada tim, baik di dalam maupun di luar lapangan.

"Saya pikir bersama dengan banyak orang lain bahwa dia (Messi) adalah tambahan penting di lapangan," katanya, dikutip dari Punchng.

Scaloni meminta semua orang melihat lebih luas tentang peran Messi. Dia mengatakan, meski tidak mencetak banyak gol, Messi memiliki pengaruh di ruang ganti dan terhadap rekannya di lapangan. Scaloni melihat fungsi Messi bukan sekadar mencetak gol.

“Saya dapat meyakinkan Anda bahwa dia merupakan bagian besar dari tim. Kami tidak ragu tentang itu. Messi adalah Messi. Dia yang terbaik di atas semua orang," katanya menegaskan.

Bek Brasil, Thiago Silva, pun menolak mengalihkan perhatian ke pemain lain. Menurut dia, Messi tetap harus diwaspadai. Pasalnya, dia menilai si kaki kidal tetap sebagai pemain terbaik di dunia.

“Kita harus fokus padanya, terutama ketika kita memiliki bola dan ketika kita tidak. Terkadang dia bisa berjalan dengan kecepatan selama pertandingan, tetapi dia selalu mencari ruang untuk meluncurkan serangan balik,” ungkapnya, dikutip dari Reuters.

Perjalanan Brasil di Copa America hingga babak perempat final adalah menang tiga kali dan satu kali imbang dari empat pertandingan. Tim Samba memasukkan 12 gol ke gawang lawan dan kebobolan tiga kali.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA