Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Pemerintah Optimistis Swasembada Sapi Terwujud pada 2026

Sabtu 29 Jun 2019 22:35 WIB

Red: EH Ismail

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita (tengah) disambut unsur perangkat daerah Kabupaten Kupang NTT.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita (tengah) disambut unsur perangkat daerah Kabupaten Kupang NTT.

Foto: Humas Kementan
Optimalisasi reproduksi ternak dengan penerapan teknologi tepat guna adalah jalannya.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG — Pemerintah menargetkan populasi sapi/kerbau secara nasional akan mengalami peningkatan sehinga swasembada daging sapi akan terwujud pada 2026. Dasarnya adalah pengembangbiakan sapi melalui upaya khusus percepatan populasi sapi dan kerbau bunting (Upsus Siwab).

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita saat menghadiri acara Kontes Ternak Sapi dan Pesta Budaya Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang pada Jumat (28/6). 

Dalam kesempatan tersebut, Ketut menyampaikan pihaknya menyambut baik acara kontes ternak sapi. Menurutnya hal itu merupakan cara penyebarluasan informasi capaian dan kinerja yang sudah diraih di bidang peternakan kepada masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Khususnya di Kota Kupang. Sekaligus memberikan penghargaan dan mendorong keterlibatan peternak dan masyarakat dalam memelihara sapi serta berusaha di bidang peternakan.

"Acara ini diharapkan dapat berkontribusi bagi pembangunan peternakan dan peningkatan populasi sapi/kerbau nasional karena memberikan stimulan bagi peternak untuk beternak lebih baik" ujar Ketut, dalam siaran tertulis yang diterima Republika pada Sabtu (29/6). 

Untuk mencapai swasembada daging sapi, Pemerintah terus mendorong pertumbuhan populasi ternak sapi dan kerbau. Optimalisasi reproduksi ternak dengan penerapan teknologi tepat guna adalah jalannya. Yaitu transfer embrio (TE) dan inseminasi buatan (IB). Pemanfaatan teknologi tersebut merupakan salah satu upaya untuk peningkatan populasi dan mutu genetik ternak.

Melalui kegiatan transfer embrio, selain untuk peningkatan mutu genetik, juga memperkaya genetik ternak yang telah ada. Seperti upaya memproduksi sapi bibit unggul melalui persilangan jenis Belgian Blue dengan beberapa jenis sapi di Indonesia.

Capaian

photo

Dirjen PKH I Ketut Diarmita memberikan sambutan di Kupang NTT.

Terkait program utama Kementan, Upsus Siwab, Ketut menggambarkan capaiannya pada tahun 2018. Capaian layanan IB nasional adalah sebanyak 3.987.661 ekor atau 132.92 persen dari target 3 juta ekor. Capaian kebuntingan nasional sebanyak 2.051.108 ekor atau 97.67 persen dari target 2.1 juta ekor. Serta kelahiran sebanyak 1.832.767 ekor atau 109.09 persen. 

Sedangkan untuk tahun 2019, sampai dengan 24 Juni 2019 capaian layanan IB nasional adalah sebanyak 2.103.709 ekor atau 70.12 persen dari target 3 juta ekor dan capaian kebuntingan nasional sebanyak 977.994 ekor atau 46.57 persen dari target 2.1 juta ekor serta kelahiran sebanyak 897.860 ekor atau 53.44 persen.

"Pelaksanaan Upsus Siwab selama kurun waktu 2017-2018 memerlukan anggaran sebesar 1,411 Triliun, dan menghasilkan 2.743.902 ekor sapi, dengan asumsi harga per ekor Rp 8.000.000 maka hasil Upsus Siwab tahun 2017-2018 adalah sebesar Rp.21.951.216.000.000." Ungkap Ketut.

Upsus Siwab di NTT

photo

Dirjen PKH I Ketut Diarmita (kanan) bersama aparat pemda Kupang NTT.

NTT merupakan salah satu produsen sapi potong yang memasok kebutuhan daging sapi di Jabodetabek. Saat ini NTT merupakan salah satu daerah yang terus didorong untuk meningkatkan penggunan teknologi IB, mengingat ketergantungan kelahiran anak hasil kawin alam masih sangat tinggi karena hampir sebagian besar sistem pemeliharaan ternak sapi dan kerbau di NTT dengan cara dilepaskan (pola ekstensif).

Hal ini patut menjadi perhatian bersama, karena dengan sistem kawin alam yang tidak terprogram akan terjadi kawin sedarah. Sehingga terjadi penurunan mutu genetik. Ini dapat terlihat dari penampilan sapi-sapi yang lebih kecil.

"Melaui kegiatan IB, penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan murah, mudah, dan cepat serta dapat meningkatkan pendapatan para peternak, selain itu keuntungan IB lainnya adalah adanya perbaikan genetik" tambahnya.

Menurut Ketut dengan adanya Upsus Siwab, telah terjadi peningkatan secara signifikan terhadap total raihan IB di NTT dan wilayah Indonesia Timur lainnya yang sebagian besar merupakan wilayah introduksi.

"Kementan akan siapkan semen Belgian Blue untuk diinseminasikan (IB) pada 10 ekor sapi untuk menambah semangat kawan-kawan peternak di Kupang untuk lebih maju dan lebih baik," janji Ketut.

Ketut mengungkapkan kontes ternak tersebut merupakan momentum yang tepat untuk terus membangun seluruh potensi yang dimiliki sehingga program pembangunan peternakan nasional menjadi lebih efektif dan berdampak pada upaya pengentasan kemiskinan sebagaimana telah menjadi fokus kebijakan nasional," tutupnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA