Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Eceng Gondok Penuhi Waduk Saguling

Sabtu 29 Jun 2019 00:01 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Ani Nursalikah

Sungai Citarum di KM 77, tepatnya di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat dipenuhi eceng gondok dan sampah, Jumat (28/6).

Sungai Citarum di KM 77, tepatnya di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat dipenuhi eceng gondok dan sampah, Jumat (28/6).

Foto: Republika/Muhammad Fauzi Ridwan
Tanaman eceng gondok bisa dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan.

REPUBLIKA.CO.ID, CIHAMPELAS -- Musim kemarau yang sedang berlangsung di wilayah Bandung Raya membuat eceng gondok di Sungai Citarum, tepatnya di kilometer ke 77, waduk Saguling tumbuh banyak. Terlihat juga banyak sampah di aliran sungai tersebut.

Berdasarkan pantauan, eceng gondok tersebut berada di beberapa titik. Eceng gondok paling banyak berada di sudut Sungai Citarum. Setengah bagian aliran sungai tertutup eceng gondok, akibatnya aktivitas perahu di sekitar tersebut kesulitan bergerak.

Pegiat lingkungan di Bening Saguling Fondation, Indra Darmawan (47 tahun) mengungkapkan dampak negatif dari adanya eceng gondok, yaitu menyerap air dan akarnya membuat dangkal sungai serta menciptakan sedimentasi.

"Sekarang airnya lagi surut, kalau airnya penuh maka sinar matahari tertutup dan ikan akan mati. Tapi dampak baiknya, menyerap racun. Air dari hilir bisa tersaring," ujarnya saat ditemui di sisi sungai Citarum, Jumat (28/6).

Ia mengatakan keberadaan eceng gondok tidak boleh dihabiskan, akan tetapi harus dikendalikan. Salah satu pengendalian yang dilakukan adalah dengan melakukan pemberdayaan.

Saat ini, di yayasan tersebut, para siswa yang belajar di taman kanak-kanak dan sekolah alam tingkat SMP didorong berkreasi dengan memanfaatkan eceng gondok. Salah satunya dengan membuat tas dari eceng gondok.

Tidak hanya itu, ia memiliki saung bambu yang salah satu bahannya menggunakan eceng gondok. Lembaga pemberdayaan yang diinisiasinya sejak 2014 bersama dua rekannya ini terus melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar.

Dengan luas area setengah hektare, ia mengungkapkan membuat sekolah alam tingkat TK dan SMP, termasuk memanfaatkan eceng gondok sebagai media menanam. Ia mengungkapkan, sejauh ini belum ada pihak yang melirik atau memperhatikan para pegiat dan masyarakat yang mengolah eceng gondok. Padahal, sejauh ini kreativitas masyarakat dalam mengolah eceng gondok berkontribusi secara ekonomi dan lingkungan di Sungai Citarum.

"Sejauh ini eceng gondok yang ada dibersihkan saja dari sungai dan dibuang. Padahal bisa diberdayakan dan diproses," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA