Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Riyadh dan Jeddah Kota Termahal untuk Ekspatriat di Timteng

Jumat 28 Jun 2019 09:06 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Ani Nursalikah

Suasana Kota Jeddah.

Suasana Kota Jeddah.

Foto: EPA
Kota New York digunakan sebagai kota dasar untuk semua perbandingan.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Survei Cost of Living 2019 dari Mercer menyebut Riyadh dan Jeddah sebagai kota paling mahal bagi ekspatriat di Timur Tengah (Timteng). Lembaga pemimpin konsultan global dalam memajukan karier itu menetapkan Riyadh pada peringkat ke-35 dan Jeddah pada peringkat ke-100 sebagai kota paling mahal.

Survei Biaya Hidup tahunan Mercer telah menjadi titik referensi utama bagi banyak organisasi multinasional ketika menghitung paket kompensasi untuk karyawan yang ditugaskan di internasional. “Dalam ekonomi yang berfokus pada keterampilan yang didorong digital dan kebutuhan tenaga kerja yang terhubung secara global, penempatan karyawan asing merupakan aspek yang semakin penting dari strategi bisnis kompetitif bagi perusahaan global,” kata presiden bisnis karier di Mercer, Ilya Bonic dilansir di Zawya, Jumat (28/6).

Pemimpin bisnis karier di Mercer Arab Saudi, Najla Najm menyebut, saat biaya hidup meningkat di Arab Saudi, negara itu justru menurunkan harga properti yang dapat menyeimbangkan kenaikan keseluruhan. Menurut dia, secara keseluruhan, kenaikan tersebut mencerminkan keberhasilan negara mengejar agenda diversifikasi yang ditetapkan dalam Visi Saudi 2030.

Dia beranggapan sektor selain minyak Kerajaan sudah kuat. Diperkirakan, sektor-sektor itu melanjutkan momentum kejayaannya sepanjang tahun, karena belanja pemerintah yang lebih tinggi, serta peningkatan dalam perdagangan, dan investasi asing.

Survei Mercer yang diakui secara luas adalah salah satu yang paling komprehensif di dunia. Survei itu dirancang membantu perusahaan multinasional dan pemerintah menentukan tunjangan kompensasi bagi karyawan asingnya.

Kota New York digunakan sebagai kota dasar untuk semua perbandingan, dan pergerakan mata uang diukur terhadap dolar AS. Survei itu mencakup lebih dari 500 kota di seluruh dunia. Peringkat tahun ini mencakup 209 kota di lima benua dan mengukur biaya komparatif lebih dari 200 item di setiap lokasi, termasuk perumahan, transportasi, makanan, pakaian, barang-barang rumah tangga, dan hiburan.

Survei Biaya Hidup 2019 Mercer menemukan, delapan dari 10 kota paling mahal di dunia untuk ekspatriat adalah kota-kota Asia. Hal itu disebabkan dari biaya tinggi untuk barang-barang konsumen asing dan pasar perumahan yang dinamis. Perinciannya, Tokyo (2), Singapura (3), dan Seoul (4) berada di urutan teratas. Sementara kota termahal di dunia untuk tahun kedua berturut-turut adalah Hong Kong (1). Kota-kota lain yang muncul dalam 10 besar adalah Zurich (5), Shanghai (6), Ashgabat (7), Beijing (8), Kota New York (9), dan Shenzhen (10).

Sementara kota ekspatriat paling murah di dunia adalah Tunis (209), Tashkent (208), dan Karachi (207). Sebanyak delapan dari 10 kota teratas dalam peringkat tahun ini berada di Asia, sebagian karena pasar perumahan yang kuat. Hong Kong tetap menjadi kota paling mahal bagi ekspatriat, baik di Asia maupun global, sebagai akibat dari pasar perumahan dan mata uang yang dipatok terhadap dolar AS menaikkan biaya hidup secara lokal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA