Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

BMKG: Hujan Masih Berpeluang di Luar Jawa

Rabu 26 Jun 2019 18:54 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Friska Yolanda

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjuk peta sebaran awan dan potensi hujan hasil penginderaan Satelit Palapa C2. (Ilustrasi)

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjuk peta sebaran awan dan potensi hujan hasil penginderaan Satelit Palapa C2. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Asep Fathulrahman
Hujan berpeluang terjadi di luar Jawa dengan intensitas sedang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika meramalkan hujan masih berpeluang terjadi di luar pulau Jawa. Namun mayoritas intensitas hujannya sedang saja.

Baca Juga

Kasubag Hubungan Pers dan Media, Dwi Rini Endra Sari memaparkan pulau utama seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua tetap berpeluang hujan. Namun demikian, potensi hujannya kecil karena telah memasuki periode musim kemarau.

Daerah itu di antaranya Aceh bagian timur, Sumut bagian utara, Sumsel bagian selatan, Kalteng bagian barat, pesisir Sulsel, pesisir Sulut, pesisir Sulteng, Maluku bagian selatan dan Papua bagian selatan. "Kemarau di sana bukan berarti enggak ada hujan, tetap ada peluang curah hujan. Wilayah-wilayah tersebut masih peluang curah hujan menengah 50-150 mm hingga curah hujan tinggi," katanya pada Republika.co.id, Rabu (26/6).

Ia menyebut untuk curah hujan menengah terjadi di wilayah pesisir Aceh, Sumbar, Bengkulu, Sumsel bagian barat, Jambi bagian barat, Kaltim, Kalteng, Sulsel, Papua bagian utara. Sementara, curah hujan tinggi di atas 150 mm terjadi di pesisir timur Sulteng, Papua bagian tengah. 

"Kami memantau curah hujan ini per sepuluh hari," ujarnya.

Ia menjelaskan penyebab musim kekeringan saat ini bukanlah El Nino dimana terjadi kenaikan suhu permukaan air di Samudra Pasifik. Namun, kekeringan terjadi lebih disebabkan oleh pengaruh temperatur di Samudra Hindia dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD).

"IOD tandakan suhu muka laut lebih hangat di bagian barat (samudra Hindia) misalnya di Sumatra, jadi di sana sedikit hujan. Suhu timur di bagian Afrika lebih panas. Jadi banyak penguapan gampang hujan disana," jelasnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA