Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Dadhanggula, Blues, Country: Kisah Diponegoro November 1828

Selasa 25 Jun 2019 09:20 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Orang kulit hitam memainkan musik blues.

Orang kulit hitam memainkan musik blues.

Foto: bbc.com
Kolobarsi musik harus elahirkan sebuah estetika baru yang lebih menarik

Oleh: Moh As'adi, Jurnalis Senior

Di bawah tekanan siksaan Kapiten van der Borst, Kromoludiro seorang penduduk sebuah desa kecil bernama Sambiroto, mengerang kesakitan dengan tubuh terikat di sebuah tiang rumahnya sendiri. Kromoludiro ditangkap Belanda, karena laporan Jayangwirono penduduk desa yang gila tahta dan kekuasaan. Kromoludiro dianggap tahu dimana persembunyian Sentot Prawirodirjo, penglima perang Pangeran Diponegoro.

Tubuh berdarah-darah, siksaan demi siksaan ia terima namun lelaki itu bergeming. Tak mau berkhianat, sehingga membuat Van Der Broost naik pitam dan putus asa. Ketakberdayaan tak membuat Kromoludiro menyerah, sebagai ungkapan segala penderitaannya, Ia mendendangkan Dandanggula, suaranya parau, sedih , penuh harap. Itulah sepenggal kisah fiksi bertajuk November 1928 karya monumental Teguh Karya.

Dalam cerita Nagasasra sabuk Inten, Dandanggula, selalu menandai kehadiran salah seorang tokoh sakti bernama Ki Ageng Pandan Alas. Kisah yang ditulis SH Mintarja ini, adalah sebuah kisah bersetting kerajaan Demak.

Dandanggula, di kedua kisah yang terjadi direntang waktu berbeda itu, menandai bahwa, Dandanggula, adalah cara orang-orang Jawa mengekspresikan perasaannnya. Ia menjadi lagu yang di dendangkan (kemudian disebut uro-uro)kalangan penduduk di Jawa sejak bertahun-tahun silam.

 

Selain mempunyai arti harapan yang indah, beberapa kalangan juga ada yang menafsirkan Dandanggula berasal dari kata dhandang yang berarti burung gagak yang melambangkan duka, dan dari kata gula yang terasa manis sebagai lambang suka.

Lepas dari dua penafsiran itu, Dandanggula yang menempati urutan tembang ketujuh setelah tembang macapat Gambuh, dalam bingkai kebudayaan Jawa sebenarnya memiliki arti penting. –namun hari-hari terakhir ini siapa yang mengerti Dandanggula-?

Pengembangan kebudayaan sekarang terkesan hanya terfokus pada pertujukan kesenian tradisional. Seharusnya kesenian tradisional dimaknai secara keseluruhan, karena banyak elemen disini, ada tembang, folklore dan seni rupa serta sastra lisan.
Kita bisa belajar pada Blues, yang tak lekang oleh waktu dan terus berkembang. Blues tak beda dengan –uro-uro-, ia lahir dari etnis Afrika-Amerika di Semenanjung Delta Mississipi di akhir abad 19.

Blues yang mendayu-dayu, parau, kadang berteriak serta merintih, adalah ekspresi segala penderitaan para budak kulit hitam. Irama dan syairnya mengekpresikan betapa berat hidup sebagai budak di bawah tekanan kaum kulit putih. Bahkan kadang lirik-liriknya penuh harap atas sebuah kebebasan serta kemerdekaan.- gaya vocal penyanyi Blues disebut menggunakan milisma (menggunakan banyak nada dalam satu kata )dan intonasi bergelombang.

Sebagaimana uro-uro semula blues dinyanyikan tanpa alat musik, kemudian menggunakan alat petik gitar sebagai iringan lagu. Musisi dan pencipta blues, rata-rata dari kalangan kaum kulit hitam Amerika.

Lalu kenapa disebut Blues? Semula lagu-lagu tanpa alat musik itu disebut blue, yang dikonotasikan dengan perasaan frustatif dan melankolis.

Selain Blues ada music country. Musik ini selalu terkesan riang gembira, penuh harapan dan cinta. Musik ini lahir dari kaum imigran kulit putih (Eropa) di sepanjang sungai Missisipi, yang kemudian menemukan tanah baru di Amerika Utara, di sebelah selatan pegunungan Appalachia.

Para imigran membawa alat musik yang telah dikenal sejak lama oleh mereka. Orang Irlandia membawa fiddle (biola), orang Jerman membawa Dulcimer atau alat musik petik, orang Italia membawa mandolin, orang Spanyol membawa gitar dan orang Afrika membawa banjo.

Dari interaksi para musisi dari berbagai kebangsaan ini menghasilkan musik khas Amerika Utara. Dan diabad ke 19 kelompok musik ini berpindah ke Texas, mereka pun melanjutkan bermain musik di sana.

Saya kurang tahu persis apakah uro-uro masih terdengar di lereng kampung leluhur saya yang ada di lereng gunung Sindoro-Sumbing, dalam bentuknya yang lain sekalipun? Barangkali memang tak lagi diminati anak-anak muda kita termasuk kalangan pelajar, atau memang tidak tahu lantaran minimnya informasi. Selama ini, hanya seni pertunjukan yang mereka geluti, sementara sastra lisan termasuk tembang terabaikan.

Nah, supaya lebih memikat dan berkembang. Tembang uro-uro bisa diinterasikan dengan alat musik dan tari atau pada seni teater. Hanya saja, jangan seperti kasus Kuda Lumping yang memasukkan unsur lain (tari Bali dan Leak) yang justru merusak estetikanya.

Blues berkembang dengan kolaborasi, demikian pula music country. Namun kolaborasi tadi bukan sekedar menempel-nempel. Tetapi melahirkan sebuah estetika baru yang lebih menarik dan memiliki karakter sendiri.





  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA