Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Serban, Wulang Reh, Kuda Putih, Hingga Jubah Diponegoro

Senin 24 Jun 2019 10:42 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pangeran Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah dan surban, ketika beristirahat bersama pasukannya di bantaran sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.

Pangeran Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah dan surban, ketika beristirahat bersama pasukannya di bantaran sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.

Foto: Gahtena.nl
Ternyata serban, juga, kuda putih lazim dikenakan Diponegoro

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Apakah Pengeran Diponegoro terbiasa mengenakan sorban (turban)? Pertanyaan ini memang menggeletik sebab akan memancing kontroversi tentang pakaian serban ini yang kini kadang disalahkaprahi sebagai ciri atau lambang yang dilekatkan sebagai ’sosok radikal’ bila dikenakan orang Indonesia masa kini.

Ketika soal ini kemudian ditanyakan pada guru besar filsafat Islam Universitas Paramadina, Prof DR Abdul Hadi WM, jawabnya malah mengejutkan. Dia mengatakan tak bisa disalahpahami seperti itu. Serban adalah pakaian ang lazim digunakan pada zaman itu dan sebelumnya yakni ketika Islam masuk ke Nusantara.

‘’Banyak kan tokoh dan pemimpin Islam mengenakan serban. Bahkan ulama NU  dan tokoh NU terbiasa memakainya. Jadi tak benar. Itu pandangan pejoratif. Bahkan mereka memanggil para orang yang memakai serban sebagai ulama, yakni dengan sebutan maulana,’’ kata Abdul Hadi pada suatu percakapan.

Dalam soal serban dan jubah, bahkan ada fakta yang menarik. Dahulu Raja Mataram, Sri Susuhunan Pakubuwana IV dalam sejarahnya selalu dan terbiasa memakai serban maupun jubah. Bahkan Sunan yang menciptakan banyak sekali tembang Jawa klasik ini terbiasa memakai jubah pada keseharian. Tak hanya itu Sultan yang sangat santri (disebut juga sebagai Sultan Wali) ini kerap memberikan khutbah Jumat di Masjid Kraton Surakarta.

Salah satu jejak karya Sunan Pakubuwana IV ini adalah ‘Serat Wulang Reh’. Isinya berisi nasihat mengarungi dalam mengarungi hidup. Karya ini sanga Islami dan sangat populer di kalangan masyarakat Jawa sampai sekarang. Salah satu penggal Serat Wulang Reh diantara begini:

Padha gulangen ing kalbu,
Ing sasmita amrih lantip,
aja pijer mangan nendra,
pesunen sarinarira

(Ajarilah dirimu melatih hati,
Supaya batinmu menjadi pintar,
Jangan suka makan dan tidur
Biar dapat terwujud cita-citamu
Buatlah prihatin badanmu
Kurangi makan dan tidur)

Dan khusus untuk kebiasaan mengenakan serban dan jubah itu kemudian juga diikuti oleh pangeran Diponegoro. Ini pun sudah banyak buktinya. Salah satunya adalah lukisan sketsa opsir yang merupakan pelukis tentara Belanda saat melihat pasukan Diponegoro ‘mesanggrah’ (singgah beristirahat) di tepi Kali Progo beberapa hari sebelum sang pangeran berkunjung ke rumah Residen di Magelang yang membuatnya kemudian ditangkap pada hari kedua lebaran Idul Fitri.

Yang paling unik adalah terlihat dalam lukisan pasukan Diponegoro bisa berbaris rapi. Kesan prajurit Diponegoro yang tak punya disiplin dan tak lebih hanya segerombolan ‘pengacau liar’ tak terbukti.  Senjatanya terlihat rapi dan mereka mengenakan seragam, yakni pakaian yang sama. (lihat lukisan diatas,red).

Sejarawan asal Inggris yang menulis disertasi dan 40 tahun meneliti Pangeran Diponegoro, Peter Carey, dalam sebuah bukunya yang bertajuk ‘Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855' menyebutkan ketika berada di tepi Sungai Progo sang pangeran bersama 800 pasukannya, Mereka membuat perkemahan di bantaran sungai tersebut. Letaknya di Dusun Meteseh Jayengan, Kelurahan Kota Magelang, Kota Magelang.

Menurut Carey, lokasi itu  dijadikan kamp perkemahan pasukan DIponegoro selama 20 hari mulai tanggal 8 Maret 1830. Waktunya adalah di awal bulan puasa itu serta terletak tidak jauh dari Kantor Residen Kedu tempat perundingan. Jaraknya tidak lebih dari 500 meter arah bawah kantor residen menuju pinggir sungai. Dan selama lebih 20 hari hingga tanggal 28 Maret 1830 itu memang terjadi semacam gencatan senjata atau  tidak ada peperangan.

Lalu apa menariknya lagi dalam sketsa Pangeran Diponegoro kala berada di bantaran Sungai Progo saat itu? Jawabnya, yang jika ada pihak yang sering ragu bila Pangeran Diponegoro di kala beperang selalu naik naik kuda putih, mengenakan jubah, dan serban ternyata tidak benar adanya. Sebab, memang terbukti dan terlihat dalam lukisan itu Pangeran Diponegoro naik kuda sembari dikawal para bala tentaranya. 

Dan ini pun sesuai dengan kisah yang mengatakan Pangeran Diponegoro adalah sangat piwai naik kuda. Ustaz Salim Fillah dalam sebuah tanyangan video mengatakan bila naik kuda Dipongeoro seperti tengah menari. Bahkan dia lazim serta piawai mengendarai kuda tanpa tali kekang.

‘’Beliau kerakali mengendalikan kuda dengan hentakan kaki dan tangan. Kipiwaian berkuda ini dia dapat kiranya dari moyangnya yang merupakan salah satu Sultan di Bima, Nusa Tenggara Barat. Bahkan di rumahnya di Tegal Rejo dia punya 70 kuda. Pangeran Diponegoro adalah seorang pangeran yang kaya raya sekaligus menjadi penasihat Sultan Jogja saat itu,’’ ungkap Salim Fillah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA