Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Makanan Halal Buka Pintu Antaragama di Taiwan

Sabtu 22 Jun 2019 03:55 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Christiyaningsih

Soto menjadi salah satu makanan yang meramaikan Festival Makanan Halal di Taichung, Taiwan.

Soto menjadi salah satu makanan yang meramaikan Festival Makanan Halal di Taichung, Taiwan.

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Sertifikat halal adalah cara meyakinkan pelanggan Muslim di Taiwan

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI — Sebelum gencar sertifikasi halal, Muslim Taiwan lebih suka makan buah-buah yang masih memiliki kulit atau telur rebus. Pelindung itu memberi kepastian bahwa makanan tersebut tidak terkontaminasi makanan non-halal meskipun bersebelahan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Muslim Cina (CMA) Salahuding Ma mengatakan sudah banyak hal yang berubah, khususnya ketersediaan makanan halal di Taiwan. Penyelenggaraan Paviliun Halal Taiwan tahun ini menjadi pameran makanan internasional besar di Taipei World Trade Center.

Setidaknya lebih dari 100 gerai menampilkan makanan, minuman, dan produk kesehatan yang sesuai standar hukum Islam. Pemilik kios yang mengantongi sertifikat halal mengaku memang mengincar pasar Asia Tenggara. Selain itu, sertifikat halal adalah cara meyakinkan pelanggan Muslim.

“Sertifikasi halal menandakan kesehatan dan kebersihan. Di pasar internasional, ini meningkatkan efektivitas pemasaran kami,” kata manajer gerai Rice House, Chen Chiao-an seperti dilansir Taipei Times, Jumat (21/6).

Sejak memulai program sertifikasi pada 2012, CMA menjadi lembaga sertifikasi halal terbesar di Taiwan. Kendati demikian, Ma kurang memahami latar belakang yang menggerakkan pengusaha di Taiwan berbondong-bondong mencari sertifikasi halal.

Ma menggunakan logika pasar sebagai cara praktis memahami adanya keinginan mengantongi sertifikat halal di negara yang Muslimnya berjumlah 20 ribu hingga 40 ribu jiwa. “Kami terisolasi dari dunia luar. Jadi, kita harus membuka pintu,” ujar Ma.

Untuk mengajukan sertifikasi, staf harus dilatih tentang prinsip-prinsip halal. Pelatihan itu dikenai biaya sebesar enam ribu dolar baru Taiwan (sekitar Rp 2,7 juta) dan 500 dolar baru Taiwan (sekitar Rp 228 ribu) untuk sertifikasi.

Selain untuk operasional, anggaran itu digunakan untuk memelihara ruang dan peralatan persiapan makanan yang terpisah agar tidak terkontaminasi dan menjaga staf terlatih. Ma mengatakan makanan olahan menghadapi pemeriksaan lebih rumit agar bisa lulus uji.
Dengan kata lain, Ma menganggap sertifikasi halal adalah komitmen tentang waktu dan uang. Di Taiwan, ramainya penerbitan sertifikasi halal berdampak pada industri pariwisata.

CMA telah merilis aplikasi pencarian restoran dan hotel halal dalam bahasa Inggris, Melayu, dan Indonesia. Setidaknya, ada 180 restoran dan hotel halal tersertifikasi di seluruh negeri.

Tahun ini, peringkat pariwisata Taiwan naik dua tingkat bersama Jepang dan Inggris berdasarkan Indeks Perjalanan Muslim Global dari negara-negara yang ramah Muslim di luar Organisasi untuk Kerja Sama Islam.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA