Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Suhu Dingin di Cilacap Capai 17,9 Derajat Celsius

Kamis 20 Jun 2019 18:33 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Yudha Manggala P Putra

Ruang pengawasan BMKG (ilustrasi)

Ruang pengawasan BMKG (ilustrasi)

Foto: Antara Foto
Suhu dingin di Cilacap diperkirakan berlangsung hingga kemarau berakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Cilacap Teguh Wardoyo, mengakui sejak beberapa hari terakhir suhu udara di empat wilayah kabupaten eks Karesidenan memang terasa lebih dingin. Terutama pada malam hari.

Bahkan Teguh menyebutkan, dari pengamatan suhu udara di wilayah Kabupaten Cilacap pada malam hari mencapai titik terendah. Dari pengukuran suhu udara di dua lokasi, tercatat angka Celsius yang jauh di bawah kondisi normal.

''Dari pengukuran di kantor Stasiun Meteorologi Cilacap yang ada di Kota Cilacap, suhu udara terendah tercatat 20,4 derajat Celsius. Sedangkan pengukuran di Bandara Tunggul Wulung yang ada di pinggiran Kota Cilacap, suhu udara tercatat mencapai 17,9 derajat Celsius,'' jelasnya, Kamis (20/6).

Dengan hasil pengukuran ini, dia memperkirakan, wilayah di dataran tinggi atau pegunungan akan terasa lebih dingin lagi, mengingat hasil pengukuran di wilayah pesisir sudah mencapai 20 derajat Celsius. ''Laju penurunan suhu di daratan tinggi ini, biasanya berkurang sekitar 0,5°C per kenaikan 100 m ketinggian,'' jelasnya.

Teguh menyebutkan, suhu udara 17,9 derajat Celsius yang tercatat di pos pengamatan cuaca Bandara Tunggul Wulung Cilacap, hampir menyamai suhu udara minimum yang terjadi 14 Agustus 1994. Saat itu, suhu udara terendah tercatat sebesar 17,4 derajat Celsius dan suhu maksimum hanya 25,8 derajat Celsius.

Teguh memperkirakan, suhu udara yang terasa dingin ini akan berlangsung hingga kemarau berakhir. Bahkan suhu udara, diperkirakan akan semakin dingin seiring dengan makin mendekatnya puncak kemarau pada Agustus 2019 mendatang.

Namun dia menyebutkan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan perubahan suhu udara tersebut. Dampak suhu udara dingin di musim kemarau, biasanya hanya menyebabkan kulit menjadi lebih kering. ''Bagi yang alergi dingin, sebaiknya lebih sering mengenakan baju hangat,'' katanya.

Dia memastikan, kejadian suhu yang lebih dingin ini diprakirakan masih dalam batas yang normal, sehingga tidak perlu dikhawatirkan oleh masyarakat. Demikian juga munculnya kabut di pagi hari, merupakan fenomena yang lazim terjadi di musim kemarau.

Dari aspek cuaca, Teguh menyebutkan, udara dingin dan kering yang terjadi saat ini disebabkan angin monsoon yang berhembus dari wilayah Australia. ''Cuaca ekstrem yang saat ini terjadi Australia, berhembus ke Pulau Jawa yang menyebabkan udara menjadi lebih dingin,'' katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA