Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Kementan Ajak Milenial Bertanam di Lahan Pekarangan

Rabu 19 Jun 2019 20:25 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Gita Amanda

Jajaran pegawai Balitsa Lembang, Kementerian Pertanian dan Koramil memanen  sayuran hasil menanam di lahan pekarangan balitsa, Rabu (18/6). Kegiatan  tersebut bagian dari program Opal Kementerian Pertanian.

Jajaran pegawai Balitsa Lembang, Kementerian Pertanian dan Koramil memanen sayuran hasil menanam di lahan pekarangan balitsa, Rabu (18/6). Kegiatan tersebut bagian dari program Opal Kementerian Pertanian.

Foto: Republika/M Fauzi Ridwan
Menanan sayur dan buah bagi milenial di lahan sendiri bagian dari ketahanan pangan.

REPUBLIKA.CO.ID, LEMBANG -- Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) mengajak generasi milenial untuk bertanam pada lahan pekarangan. Jika lahan yang dimiliki terbatas maka teknik menanam bisa menggunakan model yang mudah dan efisien seperti memanfaatkan pot dan paralon.

Baca Juga

"Modelnya banyak (untuk milenial), kalau nggak ada lahan bisa dari pot atau memanfaatkan paralon. Mereka bisa menanam bawang merah dan sayuran seperti sawi atau kangkung," ujar Kepala Puslitbang Holtikultura Kementerian Pertanian, Hardianto di Balitsa Lembang, Rabu (18/6).

Menurutnya, gerakan menanam sayuran dan buah-buahan dikalangan milenial bisa dilakukan secara sederhana. Dengan menggunakan media yang ada termasuk salah satunya menanam dengan hidroponik.

Ia mengungkapkan, menanam sayuran dan buah-buahan bagi milenial di lahan sendiri merupakan bagian dari ketahanan pangan. Sehingga mereka bisa menikmati hasil panennya sendiri daripada membeli ke yang lain.

"Sekarang yang muda-muda sudah mau menjadi pengusaha holtikultura. Mereka melihat tidak hanya dari kesehatan saja tapi prospek pendapatan juga," ungkapnya.

Hardianto menambahkan dilingkungan Kementan sendiri sudah membuat program gerakan obor pangan lestari (Opal). Dimana, institusi memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami komoditas sayuran dan buah-buahan. Hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau rumah tangga.

Menurutnya, gerakan Opal salah satunya diwujudkan oleh Balai Tanaman dan Sayuran (Balitsa) Lembang. "Opal ini dibangun di masing-masing institusi Kementan dam nanti bisa dikembangkan diinstitusi lainnya," katanya.

Semakin banyak institusi yang memanfaatkan pekarangannya untuk ditanami maka, ia mengungkapkan masyarakat bisa mencontoh mengikuti hal serupa. Sehingga ke depan diharapkan, mereka bisa mengkonsumsi tanpa harus membeli tapi dari hasil memanen.

"Apalagi dari memanen, hasilnya lebih fresh. Gerakan ini juga agar masyarakat tahu pentingnya memakan sayuran dan buah-buahan," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA