Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Harga Ayam Ras dalam Sepekan Ditarget Sesuai Harga Acuan

Rabu 19 Jun 2019 12:16 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Friska Yolanda

Pekerja mengumpulkan telur di sebuah peternakan ayam petelur Mangli, Muntung, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah Jumat (24/5/2019).

Pekerja mengumpulkan telur di sebuah peternakan ayam petelur Mangli, Muntung, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah Jumat (24/5/2019).

Foto: Antara/Anis Efizudin
Rata-rata daging ayam di konsumen mencapai Rp 35 ribu-Rp 40 ribu per kg.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama stakeholder peternak ayam ras sepakat, dalam waktu tujuh hari harga ayam hidup atau Live Bird (LB) dapat stabil dan sesuai harga acuan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Terkait kondisi harga LB saat ini, Amran meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk dapat menelusuri pemicu rendahnya harga LB di farm gate yang masih jauh di bawah harga acuan, sehingga menimbulkan gejolak di peternak mandiri dan UMKM.

Hal ini disampaikan Amran dalam rapat koordinasi perunggasan pada hari Selasa (18/6) di Ruang Rapat Utama I Ditjen PKH yang dihadiri oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Perdagangan, Intelkam Mabes POLRI, serta para anggota asosiasi GPPU, Gopan, dan PPUN. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018, harga acuan Live Bird berkisar Rp 18 ribu-Rp 20 ribu per kilogram (kg). Sedangkan  di Jawa Tengah dan Jawa Timur, harga LB berada di kisaran Rp 8.000-Rp 10 ribu per kg. 

Sementara itu harga rerata daging ayam di konsumen mencapai Rp 35 ribu-Rp 40 ribu per kg. Amran mengungkapkan untuk menyelesaikan rendahnya harga LB ini, Kementan telah mengundang secara maraton para pelaku perunggasan, pakar, dan unsur pemerintahan terkait untuk membahas situasi dan solusinya. 

“Ada disparitas harga yang sangat tinggi antara harga dari peternak dan harga di tingkat konsumen. Hal ini menandakan ada sesuatu yang salah, sehingga Kami minta Satgas Pangan melacak oknum yang bermain dalam situasi ini, dan kami minta beri sanksi yang seberat-beratnya," kata Amran dalam keterangan pers yang diterima, Rabu (19/6). 

Lebih lanjut dia menyebut, pihaknya akan menambahkan anggota satgas pangan untuk mencari pihak-pihak yang bermain dalam situasi penurun harga LB karena telah meresahkan peternak. Dia menjelaskan, harga ayam LB seharusnya berada dalam kondisi stabil sebab produksi perunggasan di Indonesia, kata dia, terus meningkat dari tahun ke tahun. Dia juga mencontohkan, produksi daging ayam di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 3,6 juta ton, dan rata-rata meningkat 3,74 persen setiap tahunnya. 

Adapun konsumsi daging ayam di Indonesia pada tahun 2018 adalah 3,1 juta ton. Menurut dia, hal itu berarti masih ada surplus cadangan sebesar 305.127 ton. Hal ini, kata dia, merupakan peluang untuk dapat mengekspor ke luar negeri. Saat ini, dia membeberkan, Kementan telah mengekspor komoditas pertanian termasuk didalam komoditas peternakan seperti daging ayam olahan ke beberapa negara. 

Sementara itu pewakilan peternak ayam, Alvino manyambut baik dan mendukung rencana Menteri Pertanian untuk memberantas mafia ayam ini. "Kami berharap Menteri pertanian memberikan perlindungan agar peternak rakyat (mandiri dan UMKM) mendapat tempat yang luas dalam budidaya ayam ras," kata dia. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA