Senin, 25 Zulhijjah 1440 / 26 Agustus 2019

Senin, 25 Zulhijjah 1440 / 26 Agustus 2019

Pengamat Nilai Transportasi Jakarta Butuh Masterplan

Selasa 18 Jun 2019 06:50 WIB

Red: Friska Yolanda

Kereta MRT melintas di dekat jembatan penyeberangan orang Halte CSW, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (3/4).

Kereta MRT melintas di dekat jembatan penyeberangan orang Halte CSW, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (3/4).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Penyelenggara layanan transportasi di Jakarta perlu dilakukan oleh satu badan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Skema moda transportasi di Jakarta membutuhkan rencana induk atau masterplan yang dapat menjadi pedoman dalam proses pembangunan dan pengembangannya. Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instra) Deddy Herlambang saat diwawancarai di Jakarta mengatakan rancangan yang tertera dalam masterplan akan mempermudah dan memperjelas arah pengembangan transportasi di Jakarta dari waktu ke waktu.

"Pembangunan secara bertahap akan jelas. Tahun ini, lima tahun lagi, ke depan akan bagaimana, semua jelas. Secara makro, secara holistik semua terbangun secara jelas," kata Deddy, Senin (17/6).

Baca Juga

Selain rencana induk, dia juga mengatakan penyelenggaraan layanan transportasi di Ibu Kota perlu dilakukan oleh satu badan yang dapat mengatur pengoperasian seluruh armada. Perkembangan transportasi Ibu Kota, dengan kehadiran Moda Raya Terpadu (MRT), layanan bus Transjakarta dan Kereta Commuter Line, serta Light Rapid Transit (LRT) yang sedang dalam masa uji publik, akan meraih hasil yang lebih optimal apabila penyelenggaraannya diatur oleh satu badan yang kuat sehingga dapat diintegrasikan secara maksimal.

"Badan penyelenggara dapat mengoperasikan armada bus, kereta, dan lain-lain. Kalau sudah ada masterplan, sebaiknya ada badan satu komando yang menyelenggarakan itu. Seperti otoritas transportasi darat (Land Transport Authority/ LTA) milik Singapura contohnya," jelasnya.

Integrasi antar moda yang tertata secara detail, kata Deddy, dapat membuat masyarakat lebih tergerak untuk menggunakan transportasi publik ketimbang kendaraan pribadi atau moda lain seperti layanan kendaraan daring. Sebagai contoh, ia mengatakan integrasi MRT dan Transjakarta seharusnya tak hanya sampai di prasarana stasiun dan haltenya saja, tetapi juga jadwal kedatangan dan keberangkatan kedua armada.

"Misalnya, ketika MRT nya sampai di stasiun tujuan, bus Transjakarta juga sudah sampai dan siap menjemput pengguna yang hendak melanjutkan perjalanan," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA