Rabu, 20 Zulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019

Rabu, 20 Zulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019

Sebuah Rumah tanpa Hari Raya

Jumat 14 Jun 2019 19:38 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang petugas menggendong seorang calon jamaah haji manula asal Provinsi Riau di Kota Pekanbaru, Rabu (2/9).

Seorang petugas menggendong seorang calon jamaah haji manula asal Provinsi Riau di Kota Pekanbaru, Rabu (2/9).

Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro
Islam mendorong umat menghormati orang tua, khususnya pada hari raya.

Hari Raya Idul Fitri dengan segala kemeriahannya. Ada ketupat, berbagai kue kering dalam toples, suara anak-anak berlarian ke sana kemari, saling senyum, saling sapa, bersalaman dan bermaaf-maafan. Menikmati Lebaran setelah 30 hari puasa. 

Tapi, tidak dengan rumah yang satu ini. Hari raya berlalu begitu saja. Penghuninya muram. Masing-masing kembali ke kamar setelah yakin tidak satu pun sanak keluarga yang mengunjungi mereka. 

Panti jompo, adalah rumah yang terlewatkan. Serasa tidak ada hari raya di situ. Seluruh penghuni panti sudah shalat Id, makan ketupat dan bersalaman sesama mereka. Tapi tetap saja mereka menunggu kehangatan keluarga. Rindu sanak saudara.

Di Jepang dan Amerika, para lansia bahkan menjadi pelaku kejahatan ringan. Mereka mengutil atau menodong. Sengaja mereka lakukan agar mereka dipenjara. 

Hidup sendiri dengan menanggung berbagai kebutuhan hidup, sangat berat bagi mereka. Hingga akhirnya mereka memilih masuk penjara.

Tak banyak yang tahu bahwa, tanggal 29 Mei didaulat sebagai Hari Lanjut Usia Nasional. Ini adalah bentuk kepedulian negara terhadap para lansia dan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap isu sosial tersebut. Negara memiliki panti jompo, akan tetapi yang dibutuhkan lansia adalah keluarga.

Islam melindungi lansia. Allah memerintahkan umat untuk menyayangi, menghormati, dan bertanggung jawab pada orang tua. 

“… dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain kepadaNya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh  cinta  dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil”. (QR: Surah al-Isra [17]: 23-24).

Rasul pun menghormati orang tua. Sebagaimana pada kisah yang terjadi tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tiba di kota Makkah dan duduk di masjid, Abu Bakar datang bersama bapaknya menemui Rasulullah. Ketika Rasulullah melihatnya maka beliau berkata kepada Abu Bakar Radhiyallahu‘anhu: “Tidakkah engkau biarkan bapak ini tetap di rumahnya hingga aku mendatanginya?”

Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, dia lebih berhak datang kepadamu daripada engkau yang datang kepadanya.” Rawi berkata, “Maka Abu Bakar mendudukkan bapaknya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengusap dadanya dan berkata, ‘Masuk Islamlah!’ Bapak tersebut akhirnya masuk Islam.” (HR Ahmad : 26956; sanadnya dihasankan oleh Syekh Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah 1/895).

Lihat betapa mudahnya ia masuk Islam. Rasulullah menyentuh hatinya dengan lembut. Para lansia juga manusia. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang harus dijaga. Tugas anak-anaknya memastikan agar hal tersebut terlaksana dengan baik. Membahagiakan dan membimbing mereka agar tetap dalam ketaatan pada Allah terutama di sisa akhir hidupnya. Wallahu 'alam.

Pengirim: Lulu Nugroho, Muslimah Penulis Opini dari Cirebon.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA