Monday, 25 Zulhijjah 1440 / 26 August 2019

Monday, 25 Zulhijjah 1440 / 26 August 2019

 

Arus Balik, Pemerintah Antisipasi Lonjakan Konsumsi BBM

Ahad 09 Jun 2019 17:10 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Yudha Manggala P Putra

 Pemudik kendaraan roda dua  menuju jawa tengah  antre   di SPBU perbatasan karawang, Jawa Barat, Senin (11/6).

Pemudik kendaraan roda dua menuju jawa tengah antre di SPBU perbatasan karawang, Jawa Barat, Senin (11/6).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Permintaan BBM oktan tinggi dilaporkan meningkat di sepanjang jalur mudik utama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Libur Idulfitri 1440 H telah memasuki fase arus balik. Ribuan kendaraan kembali meninggalkan Jawa bagian Tengah dan Timur memadati jalanan menuju ibukota dan sekitarnya, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) pun diprediksi meningkat tajam.

Tim posko nasional sektor ESDM, Sabtu (8/6) melaporkan terjadinya peningkatan konsumsi bensin oktan tinggi terutama di sepanjang jalur mudik utama. Secara nasional, permintaan bensin jenis Pertamax/Akra 92 mengalami peningkatan sebesar 33,30 persen, disusul Pertamax Turbo 8,60 persen, Premium 6,07 persen dan Pertalite 4,80 persen.

Namun, pada BBM jenis solar, Biosolar dan Dexlite justru mengalami penurunan konsumsi hingga lebih dari 50 persen. Untuk jenis ini, hanya Pertamina Dex yang mengalami peningkatan, yakni sebesar 48,83 persen.

Meski kondisi pasokan aman (di atas 20 hari) untuk semua jenis BBM, Kementerian ESDM mengimbau kepada masyarakat yang berkendara jarak jauh untuk mengisi penuh tangki bensin sebelum berangkat atau sebelum memasuki jalan tol. Apalagi saat ini juga diberlakukan rekayasa lalu lintas one way di jalan tol.

"Rekayasa lalu lintas arus balik one way di jalan tol, dimanfaatkan masyarakat untuk mengisi bensin penuh sebelum memulai perjalanan arus balik, mengantisipasi padatnya jalan serta penuhnya rest area," ungkap Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi, Ahad (9/6).

Sementara itu pada sektor Ketenagalistrikan, posko nasional sektor ESDM melaporkan kondisi ketenagalistrikan nasional aman, dengan total daya mampu pasok nasional mencapai 57.820,75 MW.

Untuk kelistrikan pengusahaan PLN daya mampu sebesar 40.625,99 MW, beban puncak 26.128,44 MW sehingga memiliki cadangan sistem sebesar 14.497,56 MW. Status per 8 Juni, terdapat 20 daerah dengan cadangan cukup dan 2 daerah dengan kondisi siaga (cadangan lebih kecil dari pembangkit terbesar) yaitu daerah Bima dan Nias.

Pada sektor geologi kondisi kebencanaan nasional, Posko melaporkan terdapat 69 jumlah gunung aktif, 48 gunung api dalam kondisi normal, 16 gunung api pada level waspada, 4 gunung api pada level siaga. Sedangkan untuk gerakan tanah/longsor nihil.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA