Senin, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 Desember 2019

Senin, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 Desember 2019

ASITA Riau: Banyak Paket Wisata Batal Akibat Tiket Pesawat

Kamis 06 Jun 2019 03:17 WIB

Red: Nur Aini

Pesawat jenis boeing milik Garuda Indonesia lepas landas di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (15/3/2019).

Pesawat jenis boeing milik Garuda Indonesia lepas landas di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (15/3/2019).

Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Banyak agen wisata membatalkan paket tur wisata akibat mahalnya tiket pesawat.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Riau menyatakan bahwa banyak masyarakat membatalkan paket wisata yang sudah dipesan lewat agen wisata. Hal itu akibat masih mahalnya harga tiket pesawat terbang.

Baca Juga

"Hal ini jelas berdampak langsung pada lesunya usaha travel agent dan pariwisata di Riau," kata Ketua Asita Riau Dede Firmansyah di Pekanbaru, baru-baru ini.

Dia mengatakan beberapa agen mengeluhkan terpaksa membatalkan paket-paket tur wisata, terutama ke Jawa, akibat mahalnya tiket pesawat domestik.

Dede menjelaskan sejak Januari hingga Desember 2018 bahkan sampai saat ini, tren harga tiket pesawat domestik khususnya dari Pekanbaru ke sejumlah Kota di Indonesia belum menunjukkan penurunan seperti yang diharapkan masyarakat.

Bahkan, jelang Idul Fitri 1440 Hijriyah, harga tiket cenderung naik hingga mencapai Rp 2-3 juta untuk kelas ekonomi. Tak heran, banyak calon pemudik yang biasanya menggunakan jasa penerbangan kini banyak beralih menggunakan transportasi darat atau laut.

Menurut Dede, mahalnya harga tiket tidak hanya memberikan dampak terhadap penjualan tiket pesawat di kalangan agen wisata, tetapi juga berpengaruh terhadap lesunya berbagai sektor dunia pariwisata.

"Kita travel agent kan mau buat paket tur untuk bisa mewujudkan perputaran wisatawan Nusantara, sesuai keinginan kementerian pariwisata tapi kondisi saat ini belum mendukung," katanya.

Sejumlah penggunan jasa justru ada mengalihkan turnya ke Singapura dan Malaysia karena tiketnya jauh lebih murah. Menurut Dede, kenaikan harga tiket dapat dimaklumi jika terjadi di musim liburan seperti akhir tahun, karena fenomena itu biasanya dipicu oleh permintaan pengguna jasa penerbangan yang tinggi.

"Tetapi memasuki Januari dan Februari itu pasti turun biasanya, karena permintaan juga kurang. Makanya, saya heran, kok dari Januari sampai sekarang nggak turun-turun. Bahkan ada penerbangan yang katanya low cost carrier(LCC), tetapi harga bagasinya mahal," ujarnya.

Karena itu, Dede menawarkan solusi kepada Pemerintah agar membuka rute bagi maskapai (LCC) lainnya. Dede menyatakan sudah pernah mendesak Menteri Pariwisata untuk melakukan upaya agar harga tiket pesawat kembali murah, sehingga sektor pariwisata kembali bergairah.

"Saya sudah sampaikan ini langsung ke Menteri Pariwisata, supaya dunia pariwisata kita tidak lesu," ucapnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA