Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

 

Bertandang, Tradisi Lebaran Bangka Belitung yang Bertahan

Jumat 07 Jun 2019 14:15 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Lebaran

Ilustrasi Lebaran

Foto: AP Photo/Gemunu Amarasinghe
Tradisi bertandang masih dipertahankan masyarakat Bangka Belitung

REPUBLIKA.CO.ID, PANGKALPINANG—  Sejumlah warga di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih tetap mempertahankan kegiatan saling "bertandang" ke rumah kolega, dalam rangka merayakan Idul Fitri 1440 Hijriyah.

"Setelah melaksanakan shalat Idul Fitri kami melanjutkan kegiatan saling kunjung bersilaturahim atau bertandang ke rumah kolega, keluarga, dan tetangga," kata Saimi, seorang warga Pangkalpinang, Kamis (6/6).

Baca Juga

Dia menjelaskan, bersilaturahim ke rumah kolega dan saling berjabat tangan di hari yang fitri memang sudah biasa di negeri ini, namun khusus di Pangkalpinang kegiatan saling tandang berlangsung cukup lama yaitu bisa mencapai satu pekan.

"Bertandang di Pangkalpinang menjadi rutinitas tahunan di Idul Fitri dan bahkan sudah menjadi tradisi, di mana setiap warga membuka pintu rumah selama 24 jam bagi masyarakat yang ingin bertandang di hari kemenangan," ujarnya.

Sementara Riskiandri, warga yang lainnya mengatakan kendati kehidupan di Kota Pangkalpinang mengikuti perkembangan zaman, namun tradisi bertandang tidak lekang oleh waktu.

"Ini seolah sudah menjadi tradisi, bahkan sudah melekat di pikiran masyarakat bahwa saling bertandang sudah menjadi suatu keharusan sehingga ada rasa malu jika tidak membuka pintu rumah beberapa hari dalam Syawal," ujarnya.

Sementara Paiman, seorang warga perantau yang sudah lama menetap di Kota Pangkalpinang awalnya mengaku merasa heran melihat berlebaran di Pulau Bangka begitu semarak.

"Praktis setiap rumah warga selalu ramai didatangi warga lainnya dalam kegiatan bertandang, bahkan ruas jalan cukup ramai dilewati kendaraan berlalu lalang oleh warga pergi bertandang," ujarnya.

Menurut dia, kegiatan bertandang di Pangkalpinang memiliki nilai sangat positif karena warga saling kunjung dan bersilaturahim.

"Di dalam Islam tentu itu sangat dianjurkan, namun ada sisi lain terkadang harus menjadi perhatian karena warga harus merogoh kantong cukup dalam untuk menyiapkan kegiatan bertandang," ujarnya.

Warga kota itu terkadang harus mengeluarkan uang mencapai puluhan juta untuk membeli aneka makanan dan kue dan membeli berbagai peralatan rumah untuk menyambut tamu yang bertandang.

"Memang di Pulau Bangka harus mengeluarkan uang lumayan banyak karena kegiatan bertandangnya bisa mencapai satu pekan, kalau di daerah lainnya cuma satu hari atau paling lama hanya dua hari," ujarnya.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA