Gamelan Warisan Sunan Gunungjati Ditabuh Usai Shalat Id

Red: Nashih Nashrullah

 Rabu 05 Jun 2019 23:33 WIB

Gamelan Sekaten peninggalan Sunan Gunung Jati berusia 600 tahun yang ditabuh setahun dua kali saat Idul Fitri dan Idul Adha di Sitinggil Keraton Kasepuhan Cirebon. Rabu (5/6). Foto: Republika/Fuji E Permana Gamelan Sekaten peninggalan Sunan Gunung Jati berusia 600 tahun yang ditabuh setahun dua kali saat Idul Fitri dan Idul Adha di Sitinggil Keraton Kasepuhan Cirebon. Rabu (5/6).

Gamelan Sunan Gunungjati berusia ratusan tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON—  Gamelan berusia 600 tahun lalu peninggalan Sunan Gunungjati Cirebon, Jawa Barat, ditabuh setelah pelaksanaan shalat Idul Fitri 1440 Hijriyah dan ini merupakan tradisi turun temurun yang terus dilestarikan.

Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, di Cirebon, Rabu (5/6), mengatakan gamelan sekaten yang ditabuh ini merupakan peninggalan Sunan Gunungjati dan salah satu metode penyebaran Islam di tanah Jawa.

"Setiap setelah shalat ied di Keraton Kasepuhan selalu ditabuh gamelan sekaten yang merupakan peninggalan Sunan Gunungjati," kata Sultan.

Baca Juga

Gamelan sekaten merupakan kepanjangan dari ''syahadatain'' yaitu dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam.

Dahulu kata Sultan, gamelan ini ditabuh Sunan Gunungjati dan setiap orang yang akan menyaksikan hiburan tersebut membayarnya tidak dengan uang atau harta, tetapi cukup menggunakan ''syahadatain''.

photo
Gamelan Sekaten peninggalan Sunan Gunung Jati berusia 600 tahun yang ditabuh setahun dua kali saat Idul Fitri dan Idul Adha di Sitinggil Keraton Kasepuhan Cirebon. Rabu (5/6).
Tradisi lain di Keraton Kasepuhan Cirebon pada saat Idul Fitri khususnya Sultan Sepuh yaitu melakukan shalat dua kali.

Pertama bersama keluarga mengikuti shalat Ied di Langgar Agung yang berada di dalam Kompleks Keraton Kasepuhan bersama kerabat keraton, kaum abdi dalem.

Setelah mengikuti shalat di Langgar Agung, Sultan kemudian kembali mengikuti shalat Idul Fitri di Masjid Agung Sang Cipta rasa yang berada di luar kompleks.

"Tradisi shalat Idul Fitri dua kali untuk Raja (Sultan Sepuh) ini menjadi tradisi turun temurun yang sudah terjadi ratusan tahun," ujarnya.

 

 

 

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X