Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

 

Jajal Kuliner Kerupuk Khas Cirebon Sambil Ziarah Makam Wali

Rabu 05 Jun 2019 18:57 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Gita Amanda

Pedagang kerupuk khas Cirebon di sepanjang Jalan Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Rabu (5/6).

Pedagang kerupuk khas Cirebon di sepanjang Jalan Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Rabu (5/6).

Foto: Fuji E Permana/REPUBLIKA
Kerupuk melarat khas Cirebon tidak mengandung banyak kolestrol.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Cirebon yang dikenal sebagai kota udang juga dikenal sebagai kota wali. Beberapa abad yang lalu Wali Songo yang berjasa menyebarkan ajaran Islam di Nusantara khususnya Pulau Jawa sering berkumpul di Cirebon.

Baca Juga

Sunan Gunung Jati bergelar Syekh Syarif Hidayatullah juga dimakamkan di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Makamnya sampai saat ini selalu ramai diziarahi oleh masyarakat dari berbagai daerah terutama Jawa Barat.

Sebelum memasuki Jalan Alun-alun Astana Gunung Jati tempat makam Syekh Syarif Hidayatullah. Pengunjung akan melewati Jalan Sunan Gunung Jati, di sana berjejer penjual kerupuk buatan Cirebon.

Pengunjung akan melihat kerupuk digantung di toko yang berjejer di kanan dan kiri jalan. Tentu pemudik yang akan melakukan arus balik nanti, jika kebetulan melewati wilayah Cirebon bisa membeli dan mencicipi kerupuk sambil ziarah ke makam wali, Sunan Gunung Jati.

Bustomi yang sudah berjualan kerupuk selama enam tahun mengatakan, sudah sejak lama banyak penjual kerupuk di Jalan Sunan Gunung Jati. Semua kerupuk yang dijual para pedagang adalah buatan masyarakat Cirebon.

"Para pedagang di sini rata-rata menjual kerupuk melarat, intip yang terbuat dari kerak nasi ini khas Cirebon, kemudian ada kerupuk kulit sapi, kulit kerbau dan kulit ikan pari, emping," kata Bustomi saat diwawancarai Republika, Kamis (5/6).

Ia menuturkan, kelebihan kerupuk melarat khas Cirebon tidak mengandung banyak kolestrol. Kerupuk tersebut terbuat dari tepung dan dimasak menggunakan pasir panas, bukan dimasak dengan minyak goreng.

Meski digoreng menggunakan pasir, ia menjelaskan bahwa pasir yang digunakan sudah dibersihkan terlebih dahulu. Terkait kerupuk tersebut diberi nama melarat yang artinya miskin karena memasaknya dengan pasir, bukan dengan minyak goreng.

Makanan khas Cirebon lainnya intip terbuat dari bahan kerak nasi yang ditanak secara tradisional. Intip diolah kembali orang Cirebon menjadi camilan yang rasanya manis dan gurih serta berbentuk seperti rengginang.

Bustomi juga mengungkapkan bahwa para pedagang kerupuk di Jalan Sunan Gunung Jati kebanjiran rezeki dari para peziarah makam Syekh Syarif Hidayatullah. "Biasanya kalau sedang ramai yang ziarah, juga ramai orang yang belanja kerupuk, keuntungan bersihnya bisa sampai Rp 6 juta tapi kalau sedang tidak begitu ramai keuntungannya bisa Rp 3 juta," ujarnya.

Makam Sunan Gunung Jati memang selalu ramai dikunjungi orang-orang setiap harinya. Bahkan di bulan tertentu jumlah peziarah bisa sampai 150 bus dalam sehari. Hal tersebut tentu membawa berkah bagi para pedagang di sana karena semakin ramai peziarah, semakin ramai juga pembeli.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA