Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Idul Fitri, Manusia Bagai Bayi yang Baru Lahir dari Ibunya

Rabu 05 Jun 2019 08:26 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Ratna Puspita

Jamaah mendengarkan ceramah dari khatib H Ratmono usai shalat Idul Fitri di Masjid Cut Meutia, Rabu (5/6).

Jamaah mendengarkan ceramah dari khatib H Ratmono usai shalat Idul Fitri di Masjid Cut Meutia, Rabu (5/6).

Foto: Republika/Mimi Kartika
Dengan berpuasa, manusia dapat membiasakan diri berbuat baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Khatib Masjid Cut Meutia Jakarta Pusat, H Ratmono, mengatakan Hari Raya Idul Fitri merupakan momen ketika manusia kembali suci bagaikan bayi yang baru lahir dari ibunya dan dalam kandungan bulan Ramadhan. "Bagaikan bayi yang baru lahir dari ibundanya, lahir dari kandungan Ramadhan," ujar Ratmono, Rabu, (5/6).

Ia mengatakan, banyak keutamaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Bahkan, ada malam di mana pintu-pintu langit dibuka, malam mulia Lailatul Qadr, yang lebih baik dari seribu bulan.

Pada saat berpuasa, umat Muslim mengutamakan keikhlasan. Beramal, shalat, zakat, dan amalan baik lainnya semata-mata karena iman dan mengharapkan ridha Allah SWT.

Baca Juga

Ratmono menjelaskan, jika ibadah lainnya yang dikerjakan bisa diketahui orang lainnya maka tidak dengan puasa. Ibadah puasa orang lain tidak tahu bahwa seseorang tengah berpuasa atau tidak.

"Puasa itu untukku, kata Allah, dan aku yang akan memberikan balasannya," tutur Ratmono membacakan firman Allah.

Menurut dia, puasa menidik manusia semua untuk ikhlas dan memahami bahwa ibadah untuk menggapai keridhaan Allah. Puasa menegaskan pandangan Muslim bahwa ridha Allah lebih besar daripada dunia dan segala isinya.

Ratmono mengatakan, berpuasa adalah segala proses pembersihan diri menuju ketakwaan. Cahaya illahi tidak akan menembus jiwa-jiwa yang kotor, cahaya rabbi akan menembus jiwa-jiwa yang bersih.

Dengan berpuasa, lanjut dia, manusia dapat membiasakan diri berbuat baik. Baik kepada Allah maupun sesama manusia. Menahan lapar dan dahaga menimbulkan kasih sayang kepada saudara-saudara.

"Kita bersedekah, menolong orang lain menggembirakan orang lain. Mereka juga menggerakkan bibir dan lidahnya untuk berzikir dan membaca Al Quran," jelas dia.\

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA