Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Malioboro Bebas Ranmor, Pemkot Tegaskan Utamakan Kenyamanan

Kamis 06 Jun 2019 00:40 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil

Kawasan Jalan Malioboro Yogyakarta, ilustrasi

Kawasan Jalan Malioboro Yogyakarta, ilustrasi

Malioboro harus membuat nyaman wisatawan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menilai, penerapan pembebasan Malioboro dari kendaraan bermotor akan tetap memikirkan kenyamanan semua. Baik masyarakat maupun pengusaha.

Ia melihat, Malioboro sebagai daya tarik utama wisata Yogyakarta harus bisa membuat nyaman dan tercukupi semua kebutuhannya. Jika masih macet dan tidak nyaman, Malioboro cuma didatangi malam.

Padahal, Heroe menekankan, semua ingin Malioboro bisa dinikmati pula pagi, siang dan sore agar semua bisa mendapat keuntungan. Ia merasa, ini sama seperti saat akan memindahkan lokasi parkir.

"Kita semua ingin orang bisa menikmati Malioboro, awalnya banyak yang keberatan karena takut tidak ada orang yang datang, tapi nyatanya orang semakin banyak yang datang," kata Heroe, Senin (3/6).

Artinya, lanjut Heroe, untuk pelayanan dan kenyaanan, kita semua harus berpikir dinamis dan berkembang. Termasuk, menyesuaikan perilaku wisatawan dan masyarakat yang baru dan perlu pembiasaan.

Semua itu ditekankan untuk memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat yang datang ke Malioboro. Sehingga, terus menjadikan Malioboro destinasi wisata yang semakin menarik.

Ia menegaskan, semua itu akan memberikan keuntungan tidak lain bagi pelaku usaha dan masyarakat sekitar. Saat ini, Pemkot telah pula menyiapkan konsep penataan Malioboro masa depan.

"Memang perlu waktu, biaya dan dukungan semua pihak untuk semakin menguatkan Malioboro sebagai destinasi utama ke Yogyakarta," ujar Heroe.

Untuk itu, kepada pelaku usaha, ia menekankan kalau ada tahapan untuk penerapan Malioboro bebas kendaraan bermotor. Tahap pertama uji coba sambil mencari dan menemukan persoalan.

Tahap kedua, mengolah temuan dan meminta masukan masyarakat untuk diolah lagi sebelum diterapkan. Tahap ketiga, penerapan bertahap untuk membiasakan manajemen lalu lintas Yogyakarta.

"Terakhir, penerapan secara penuh setelah masyarakat terbiasa. Jadi, tidak perlu ditolak, kan masih uji coba, dan hasil uji coba akan didiskusikan bersama," kata Heroe.

Termasuk, lanjut Heroe, mendiskusikan dengan pelaku-pelaku usaha di Malioboro. Nantinya, didikusikan pula penerapan, lama proses dan lain-lain.

Bagi Heroe, yang penting jangan berhenti berinovasi dan berubah. Sebab, masyarakat yang tidak menyesuaikan perkembangan zaman akan tertinggal jauh dan Yogya memiliki rencana merawat, menjaga dan merubah.

"Jadi dinamis, ada yang dijaga dan dirawat sebagai kekayaan Yogya, dan ada yang dikembangkan dengan merubah untuk menyesuaikan dengan tantangan zaman yang sedang dan akan terjadi," ujar Heroe.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA