Tuesday, 14 Zulhijjah 1441 / 04 August 2020

Tuesday, 14 Zulhijjah 1441 / 04 August 2020

Putih untuk Pohon Berkepak Sayap

Senin 03 Jun 2019 16:18 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Nasihin Masha

Nasihin Masha

Foto: Republika/Daan
Selama empat bulan melawan kanker darah, Ani Yudhoyono pasrah tapi tidak menyerah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nasihin Masha

“Saya pasrah, tapi tak menyerah”.
Ani Yudhoyono

Nuansa putih. Itulah yang dihadirkan keluarga Yudhoyono. Dalam suasana duka, keluarga Presiden ke-6 tersebut tak menghadirkan nuansa hitam. Tapi putih. Putih itu suci, bersih, murni. Hening.

Saya cukup terkejut dengan dress code warna putih tersebut. Susilo Bambang Yudhoyono lekat dengan karakter modern dan juga gemar pada tren mode. Saat ia melayat ke kematian pun ia biasa mengenakan pakaian warna hitam.

Ya, sudah menjadi kelaziman jika berduka maka orang mengenakan pakaian serba hitam. Namun di saat ditinggal istrinya, SBY –begitu ia biasa disapa– justru mengenakan pakaian serba putih. Berpeci hitam dan berbaju koko putih, SBY menyalati jenazah istrinya di Singapura. Busana yang sama juga dikenakan oleh Agus Harymurti Yudhoyono (AHY) dan Edhi Baskoro Yudhoyono (Ibas), dua putra mereka. Hal itu, misalnya, kontras dengan busana serba hitam yang dikenakan Hatta Rajasa, besan SBY, yang menemani mereka. Ah, bisa saja itu kebetulan. Kan memang suasana shalat. Saya membatin.

Rupanya gumaman saya salah. Keluarga Yudhoyono konsisten mengenakan pakaian serba putih. Saat di rumah duka, esok harinya di Puri Cikeas, Cibubur, mereka tetap mengenakan baju koko putih dan kopiah hitam. Demikian pula dengan AHY dan Ibas. Dua menantunya, tentu perempuan –Annisa Pohan dan Aliya Rajasa– mengenakan pakaian serba putih. Dress code serba putih juga dikenakan lagi saat penguburan di TMP Kalibata. Karena ini acara kenegaraan, SBY, AHY, dan Ibas membalut baju kokonya dengan jas warna hitam. Kopiah tetap melekat di kepala mereka. Sedangkan yang perempuan berpakaian serba putih.

Kristiani Herrawati wafat di Singapura pada Sabtu, 1 Juni 2019, pukul 11.50 waktu setempat atau 10.50 WIB. Sejak Februari, Ani Yudhoyono dirawat di National University Hospital (NUH), Singapura, karena mengidap sakit kanker darah yang ganas. Wanita kelahiran 6 Juli 1952 ini meninggal menjelang usianya yang ke-67 tahun pada bulan depan. Selama empat bulan, Ani berjuang keras melawan penyakitnya.

photo
Peti Jenazah Ani Yudhoyono. Suasana upacara Militer penyambutan peti Jenazah Almarhum Ani Yudhoyono istri Keenam Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (1/6).

Ani, di masa kecilnya dikenal tomboy. Ia gemar memanjat pohon. Anak ke-3 dari tujuh bersaudara itu memang anak kolong, ayahnya Letjen Sarwo Edhie Wibowo adalah mantan komandan RPKAD (kini Kopassus). Jika kita mengamati foto-foto Ani di masa muda, aura tomboy itu begitu kentara. Tipikal petarung. Tak heran, dalam menghadapi sakit itu, Ani berjuang keras untuk sembuh. Walau demikian, ia tak takabur. Dimensi spiritual tetap menyelimutinya. Betulkah? Inilah testimoni SBY tentang pendapat Ani dalam menghadapi sakit tersebut: “Saya pasrah, tapi tak menyerah.” Sebuah kalimat singkat dan padat yang bertanaga namun tetap tawaddu’.

Ani memang perempuan yang tegak. Seperti dicatat dalam biografinya, mengikuti pesan ayahnya, ia tak ingin menjadi rumput. Ia memilih menjadi pohon. Selain diinjak-injak orang, rumput tampak sama jika dilihat dari kejauhan. Hal itu berbeda dengan pohon. Ia berdiri tegak dan mudah dikenali satu pohon akan berbeda dengan pohon yang lainnya, walau dilihat dari kejauhan.

Merujuk pada filosofi Jawa, katanya, “Pohon bisa menjadi tetenger.” Tetenger adalah Bahasa Jawa yang berarti tanda, bisa menjadi patokan dan rujukan. Ani, walau anak ketiga, memang yang menjadi tetenger bagi keluarga Sarwo Edhie Wibowo. Bukankah itu hanya kebetulan saja karena ia menjadi istri SBY yang jenderal dan presiden?

Dalam Bahasa Jawa, istri adalah garwo, yang dalam pepatahnya diartikan sebagai sigaraning nyowo atau belahan jiwa bagi sang suami. Suami tak berarti apa-apa tanpa kehadiran istri. Istri adalah pulung bagi suami. Sekali lagi, dalam filosofi Jawa, pulung adalah bola api yang melayang di langit. Pulung adalah wahyu, rahmat dari Yang Maha Kuasa. Karena itu tak salah jika ada pepatah “di belakang suami yang hebat ada istri yang luar biasa”. SBY memaknai istri sebagai “konco wingking” (teman belakang) bukan dalam makna pejoratif, tapi justru dalam makna yang luhur. Hal itu ia perlihatkan dan ia ucapkan secara verbal tentang posisi istrinya. Ani adalah mitra. “Kadang menjadi sekretaris saya,” katanya dalam suatu kesempatan.

Ani Yudhoyono adalah istri yang proaktif. Wanita yang tegak. Pohon, bukan rumput. Namun Alberthiene Endah, wartawan yang kini menjadi penulis biografi, memberi judul buku biografi Ani Yudhoyono dengan Kepak Sayap Putri Prajurit. Ya, ia memang seperti burung yang terbang dengan mengepakkan sayapnya. Aktif bergerak.

Usai memberikan pidato testimoni di rumah duka –di hadapan Presiden Jokowi dan Presiden ke-3 BJ Habibie– dalam sekelebatan SBY tampak bingung hendak melangkah ke mana. Ada saat kosong sejenak. Tentu hal itu tak terjadi jika ada Ani di sisinya.

Suasana duka yang dalam begitu terasa di raut SBY. Matanya selalu sembab, dan tentu bengkak. Kadang tak kuasa menahan tangis. Namun sebagai pria yang lembut dan romantis, SBY tetap bisa berkomunikasi secara semiotik, melalui makna simbolik warna putih. Memberi pesan pada istrinya.

photo
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kanan) menangis disaksikan Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kiri) saat memberikan sambutan ketika kedatangan jenazah almarhumah Ani Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/6).

Melalui pakaian serba putih, SBY juga memperlihatkan kesadaran kulturalnya sebagai Muslim. Dalam tradisi Islam, kematian bukanlah bencana, tapi jalan menuju ke keabadian, kepada kehidupan yang sesungguhnya. Jalan menuju kepada kesucian. Karena itu, jenazah dikafani dengan kain warna putih.

Sebelum dikuburkan, jenazah harus disucikan terlebih dahulu dengan dimandikan sekujur tubuhnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Bahkan, di kampung-kampung, jika ada orang sakit keras, ada kebiasaan memotong kuku si sakit. Jika laki-laki, selalu dibersihkan rambut kumis dan jenggotnya. Sehingga saat kematian datang, semua sudah rapi. Tinggal dimandikan, lalu dikafani, dan kemudian dishalatkan.

Semua bagian dari persiapan menuju Sang Pencipta: ruh menuju Ruh. Karena itu kematian bukanlah kengerian, tapi kebahagiaan. Keluarga akan ikut bahagia jika raut muka mayit dalam keadaan tersenyum, bersih, bercahaya. Karena makhluk akan bertemu Khaliknya, Sang Kekasih Sejati.

Setiap budaya memiliki tradisi sendiri tentang makna kematian dan ekspresi budayanya. Di Tiongkok, warna putih juga menjadi ekspresi budaya dalam menghadapi kematian. Dalam prosesi pengurusan jenazah, semua ornamen dan pakaian di Tiongkok akan serba putih. Demikian pula di India. Namun di Jepang berbeda lagi. Di negeri ini justru pilihannya pada warna hitam. Hitam juga menjadi tradisi dalam masyarakat Eropa. Hal ini berlaku sejak masa Imperium Romawi. Namun makin tren sejak ditradisikan oleh Ratu Victoria, Inggris, ketika suaminya meninggal pada 1861.

Di masa keemasan Spanyol, warna hitam juga menjadi tren dalam tradisi kematian. Para pelayat mengenakan pakaian serba hitam. Namun saat itu sebagai simbol kelas sosial. Pakaian wool hitam saat itu menjadi pakaian termahal. Tradisi berpakaian hitam juga berkembang di Amerika Latin. Namun tak semua bangsa-bangsa Eropa mengekspresikan suasana kematian dengan warna hitam. Di Belanda, sejak Ratu Juliana, warna putih menjadi pilihan ekspresi dalam menghadapi kematian. Apapun, karena dunia kini dalam pengaruh tradisi Barat, warna hitam seolah menjadi tradisi tunggal dalam memakna kematian.

Apa yang dilakukan SBY membangkitkan kesadaran kultural tentang warna putih sebagai eskpresi dalam melihat kematian. Namun semua ekspresi memiliki maknanya masing-masing, sebagai bentuk ungkapan cinta. Seperti SBY mengekspresikan secara romantis dalam keharuan yang pekat: “Kami berkomunikasi, mestinya dia tidak bisa mendengar (karena dokter melakukan deep sleep terhadap Ani), tapi saya melihat di kelopak matanya ada titik-titik air mata, karena mungkin [dari] orang-orang yang disayangi [sehingga] masuk dalam hati dan pikiran[nya]. Air mata saya pun jatuh di keningnya, saya bersihkan, saya bisikkan, “Memo, kami semua ada di sini, air mata yang jatuh ini adalah air mata cinta, air mata kasih, air mata sayang, menyatu dengan air mata Memo. Semoga ini dimohon Allah.”

Itulah kata-kata terakhir yang dibisikkan SBY ke Ani menjelang ajal menjemput wanita yang menemaninya selama 46 tahun.

Ani gemar fotografi. Bahkan ia telah menerbitkan buku yang berisi foto-foto hasil jepretannya. Ia gemar memotret bunga-bunga yang mekar atau pohon-pohon yang indah. Seperti saat di Perth, Australia, pada 2015. Ia memotret pohon baobab. Pohon ini berlanskap tegak, kukuh menjulang, namun eksotis. Mirip dengan dirinya. Seperti bunyi di status Instagramnya: “Insya Allah, I will never give up fighting this cancer”. Pohon berkepak sayap itu terbang menuju Putih.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA