Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Mudik: Antara Meraup Keberkahan dan Mendulang Dosa

Senin 03 Jun 2019 11:21 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Memasuki H-3 Lebaran 1440 H, tercatat 556.727 orang pemudik atau sudah 69,4 persen dari total 803 ribu orang pada periode mudik tahun lalu, yang telah menyeberang dari Jawa menuju Sumatera sejak H-7, Kamis (29/5).

Memasuki H-3 Lebaran 1440 H, tercatat 556.727 orang pemudik atau sudah 69,4 persen dari total 803 ribu orang pada periode mudik tahun lalu, yang telah menyeberang dari Jawa menuju Sumatera sejak H-7, Kamis (29/5).

Foto: Foto: Humas Ditjen Hubla
Tradisi mudik bisa mendatangkan keberkahan dan menghadirkan dosa.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh  KH Cholil Nafis, Lc, Ph D* 

Suatu hari seorang sahabat bernama Ashil Al-Ghifari baru kembali dari Makkah. Ketika hendak menemui Nabi, istri Rasulullah, Aisyah RA, bertanya kepadanya, "Wahai Ashil, bagaimana keadaan Makkah sekarang?"  

Ashil menjawab, "Aku melihat Makkah subur wilayahnya, dan menjadi bening aliran sungainya." "Duduklah engkau, wahai Ashil. Tunggu sampai Rasulullah datang," kata Siti Aisyah. Tak lama, Rasulullah SAW pun keluar dari kamar dan menanyakan hal yang serupa. Dia berkata, "Wahai Ashil, ceritakanlah padaku bagaimana keadaan Makkah sekarang?" 

Ashil menjawab, "Aku melihat Makkah subur wilayahnya, telah bening aliran sungainya, telah banyak tumbuh idzkirnya (nama sejenis pohon), telah tebal rumputnya, dan telah ranum salamnya (sejenis tanaman yang biasa digunakan untuk menyamak kulit)”.  "Cukup, wahai Ashil. Jangan kau buat kami bersedih," ucap Rasul dengan penuh rindu.  

Begitulah naluri manusia, pasti rindu kampung halaman. Rasulullah sangat merindukan kota kelahiran dan dibesarkannya di Kota Makkah.   

Rasulullah pulang kampung ke Makkah setelah delapan tahun meninggalkan kampung halamannya itu pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M. Memang, konteks dan misi mudik yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya untuk melakukan penaklukkan Makkah (Fathu Makkah), bukan sekadar pulang kampung biasa. Dia kembali untuk membangun peradaban dan kesucian kampungnya, Makkah.   

Kata mudik sangat akrab bagi masyarakat Indonesia khususnya menjelang akhir Ramadhan. Arti mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.  

“Mudik bukan bayangan yang menyenangkan, melainkan menariknya di Indonesia mudik menjadi tradisi yang mengurat mengakar, dari masyarakat biasa, pengusaha sampai para pejabat negara. Tentu di balik itu semua ada makna yang besar baik dari aspek duniawi maupun ukhrawi, sehingga warga masyarakat tidak menghiraukan lagi berbagai kesulitan yang dijumpai saat mudik.

Mereka tetap menampakkan raut kebahagiaan saat-saat mudik telah dekat. Dan bahkan ketika sampai di kampung halaman, perjuangan keras saat dalam perjalanan mudik tidak tampak lagi, yang tampak hanya raut kebahagiaan. Mereka bahagia bertemu dengan orang tua, saudara-saudara, dan para tetangga seakan sebuah reuni besar tahunan.  

Setelah sekian lama merantau pergi dari kampung halaman, maka datangnya hari raya menjadi momen yang sangat menyenangkan karena berarti akan ada libur panjang yang dapat digunakan untuk bersilaturahim dengan sanak keluarga dan handai tolan.   

Semangat ini sejalan dengan seruan Islam agar kita senantiasa menjalin hubungan silaturahim. Allah SWT berfirman; “… dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS an-Nisaa’[4]: 1)  

photo
Idul Fitri (ilustrasi)

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR al-Bukhari).  

Dalam ayat dan hadis ini, Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan agar manusia senantiasa saling bersilaturahim satu dengan yang lainnya, bahkan Rasulullah menyatakan orang yang bersilaturahim akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Karena itu, hendaknya mudik diniati untuk bersilaturahim dengan famili, sahabat, dan handai tolan agar mudik membawa keberkahan kepada kita semua. 

Di samping itu, mudik juga menjadi ajang untuk bermaaf-maafan sesama anak adam. Di sini perlunya mudik sungguh pun jauh dan merepotkan, tetapi pada saat-saat tertentu perlu dilakukan mengingat Allah SWT tidak ikut campur pada dua anak adam yang berseteru, artinya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa salah satu pihak, selama pihak-pihak yang berseteru tidak saling memaafkan.  

Setelah puasa kita sempurna satu bulan dan Allah SWT memberi ampunan terhadap dosa-dosa kita (kharoja min dzunubihi kayaumin waladathu ummuhu), tinggal kita membersihkan dosa-dosa kita sesama anak adam. Jika mudik dimaknai dalam konteks ini, maka mudik memiliki makna yang baik, tidak sia-sia betapapun kita telah mengeluarkan tenaga dan biaya serta kerepotan-kerepotan lainnya saat mudik. Inilah yang kita sebut “idul fitri”, yaitu kembali kepada kesucian. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA