Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

 

'Seninya Mudik, Ya, Naik Motor Walaupun Capek'

Senin 03 Jun 2019 05:11 WIB

Rep: umar muchtar/ Red: Muhammad Subarkah

Pemudik sepeda motor melintas di jalur selatan di Kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/5)

Pemudik sepeda motor melintas di jalur selatan di Kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/5)

Foto: Raisan Al Farisi/Antara
Mereka mudik dengan motor karena tarif bus sudah naik hampir 100 persen.

REPUBLIKA.CO.ID , GARUT -- Yosep Nugraha petang itu tampak sedang duduk santai di tangga masjid bersama istri dan dua anaknya. Dua anak ini masih berusia di kisaran 3 sampai 4 tahun. Bawaannya tak hanya tiga orang, tapi juga beberapa tas yang ditaruh di bagian depan motor matic yang dikendarai.

Mereka siap berbuka puasa, dengan bekal makanan di dalam wadah yang telah dibawa dari rumah. Lengkap dengan nasi dan lauk-pauknya, serta tambahan makanan yang dipesan dari penjual di sekitar masjid.

Yosep menyadari betul risiko mudik dengan motor. Lelah sedikit, nyawa bisa melayang. Namun dia tak begitu memikirkan sampai sejauh itu. Baginya, uang yang didapatkan dari hasil kerja di Bandung harus dihemat.

Penghematan ini perlu karena dia juga harus berbagi sebagian rezeki di bulan Ramadhan ini ke saudara-saudara di kampungnya di Tasikmalaya, terutama yang masih kecil-kecil. Bukannya Yosep tak mau menaiki bus demi alasan keamanan. Tetapi, tarif bus dari arah Bandung menuju Tasikmalaya memang sudah naik hampir 100 persen.

"Saya sudah mengecek, biasanya Rp 45 ribu (per kursi), sekarang sudah pada naik. Budiman yang dari Cicaheum jadi Rp 80 ribu. Makanya lebih baik naik motor," kata pria yang bekerja di sebuah pabrik di Bandung ini, Ahad (2/6) malam.

Dalam perhitungannya, dengan asumsi empat orang mendapat kursi, maka ia harus membayar Rp 320 ribu untuk tarif bus yang sudah naik itu. Besarnya biaya tersebut, bagi Yosep, amat sayang jika terbuang untuk membayar tarif bus.

Sehingga lebih baik digunakan untuk membeli bensin motor selama perjalanan mudik yang besarannya jauh di bawah biaya naik bus. Belum lagi, bila sudah mendekati waktu Lebaran seperti sekarang, kemungkinan besar Yosep beserta istri dan dua anaknya sudah tidak kebagian kursi.

Pemudik lain yang melakukan perjalanan ke Tasikmalaya via Limbangan, Iqbal, juga mengatakan hal yang senada dengan Yosep. Dia lebih memilih mudik dengan motor dari Karawang ke Tasikmalaya ketimbang naik bus. "Padat kalau naik bus. Sudah enggak dapat bangku kalau sekarang mah," ucap pria yang bekerja di Karawang itu.

Bahkan Iqbal pernah punya pengalaman yang tidak menyenangkan saat naik bus. "Saya pernah naik bus, berdiri dari Karawang sampai Bandung. Di Bandung kan orang banyak yang turun, saya baru bisa duduk di Bandung," imbuhnya.

Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang membuat Iqbal enggan naik bus. Dan sudah beberapa tahun ini dia bersama istri dan anak selalu naik motor untuk mudik ke Tasikmalaya. Lagi pula, menurut dia, seni mudik itu ketika mengendarai kendaraan sendiri.

"Ya kalau naik bus mah bukan mudik namanya. Justru naik motor walaupun capek ya tapi ini seninya mudik. Kalau capek sedikit, ke rest area aja atau masjid," ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA