Sabtu 01 Jun 2019 23:24 WIB

Menristekdikti: Kampus Harus Terhindar dari Radikalisme

Ia mengingatkan agar perguruan tinggi dijaga dari radikalisme dan diskriminasi.

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Esthi Maharani
Menristekdikti Mohamad Nasir berbicara saat menghadiri peresmian Artificial Intelegence (AI) di kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, Kamis (28/3/19) .
Foto: Antara/Kahfie Kamaru
Menristekdikti Mohamad Nasir berbicara saat menghadiri peresmian Artificial Intelegence (AI) di kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, Kamis (28/3/19) .

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni di Surabaya. Di dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan agar perguruan tinggi dijaga dari radikalisme dan diskriminasi.

Nasir mengatakan, radikalisme dan diskriminasi tidak sesuai dengan Pancasila yang telah diperjuangkan para pendiri negara. "Kepala Lembaga (Layanan Pendidikan Tinggi, perguruan tinggi negeri, dan rektor-rektor harus menjaga kampus, menjaga NKRI, Pancasila sebagai ideologi negara, Undang-undang Dasar 1945 sebagai dasar negara dan semboyan Bhineka Tunggal Ika, ini harus kita jaga," kata Nasir, dalam keterangan resmi yang diterima Republika, Sabtu (1/6).

Ia menegaskan, tidak boleh lagi ada radikalisme dan diskriminasi di kampus. Semua perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta harus dipastikan tidak menjadi tempat berkembangnya paham-paham yang tidak sesuai dengan Pancasila.

"Kampus tidak boleh lagi ada radikalisme dan diskriminasi. Saya sebagai menteri sudah tidak bedakan lagi antara negeri dan swasta. Contohnya upacara ini tidak di perguruan tinggi negeri. Ini dalam rangka mengurangi diskriminasi," kata Nasir.

Pada tahun ini, pemerintah menekankan ingin fokus kepada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pemerataan ekonomi, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan inovasi unggul. Oleh sebab itu, Nasir mengatakan, SDM Indonesia harus senantiasa berpijak pada Pancasila.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement