Itikaf Malam 27 Ramadhan, Nasaruddin Bahas Tingkatan Rida

Red: Reiny Dwinanda

 Sabtu 01 Jun 2019 07:20 WIB

Umat muslim mendengarkan tausiyah ketika beriktikaf di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (30/5/2019) dini hari. Foto: Antara/Saptono Umat muslim mendengarkan tausiyah ketika beriktikaf di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (30/5/2019) dini hari.

Imam Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menjadi penceramah di itikaf malam 27 Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyampaikan tausiyah di hadapan jamaah iktikaf yang memadati lantai utama masjid terbesar di Asia Tenggara itu pada malam 27 Ramadhan 1440 Hijriyah. Dalam ceramahnya, ia membahas tentang tingkatan rida.

"Mempertanyakan kenapa orang tidak ibadah tapi sukses, itu kita belum pada tahap rida yang tinggi," kata mantan wakil menteri agama itu di Jakarta, Sabtu dini hari.

Nasaruddin mengatakan, insan yang berada di puncak rida akan rela dengan segala yang Allah berikan. Menurut dia, orang dalam kerelaan tingkat tinggi percaya dengan takdir Allah hingga sulit membedakan kenikmatan dan penderitaan.

"Kita harus percaya ada yang tidak kita ketahui, kecuali oleh Allah," jelas Nasaruddin.

Baca Juga

Orang dengan tingkat keridaan tinggi, menurut Nasaruddin, tidak menderita ketika ditimpa kesusahan. Itu karena mereka meyakini semua datang dari Allah.

"Menikmati kekecewaan, penderitaan, fitnah, kekalahan apapun yang datang," katanya.

Iktikaf sendiri merupakan amalan ibadah berdiam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu. Ibadah tersebut biasanya dilakukan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Salah satu kegiatan iktikaf biasanya dilakukan umat Islam dengan menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X