Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Milenial yang Mampu Pangkas Korupsi dan Kemiskinan

Jumat 31 May 2019 15:51 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Nova Enggar Fajarianto

Nova Enggar Fajarianto

Foto: Nova Enggar Fajarianto/Jakarta
Influencer milenial bisa digandeng untuk suarakan anti korupsi dan lawan kemiskinan

Indonesia adalah negara yang besar. Negara kepulauan yang memiliki banyak penduduk dengan berbagai suku dan budaya. Banyaknya jumlah penduduk di Indonesia menimbulkan persoalan yang sering kita dengar dari tahun ke tahun, yaitu kemiskinan. 

Permasalahan tersebut merupakan masalah yang kompleks, karena setiap tahun sebagian rakyat Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti dilansir dari berita detik finance tanggal 28 Juli 2018 dengan berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2012 jumlah orang miskin di Indonesia tercatat 29,25 juta atau 11,96 persen. 

Kemudian periode Maret 2013 jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 28,17 juta atau 11,36 persen. Selanjutnya pada Maret 2014 jumlah penduduk miskin tercatat 28,28 juta atau 11,25 persen. Pada Maret 2015 jumlah orang miskin 28,59 juta atau 11,22 persen. 

Memasuki Maret 2016, penduduk miskin tercatat 28,01 juta atau 10,86 persen. Kemudian Maret 2017 penduduk miskin tercata 27,77 juta atau 10,64 persen. Terakhir pada Maret 2018 jumlah penduduk miskin tercatat 25,95 juta orang atau 9,82 persen. 

Dari data juga disebutkan bahwa jumlah orang miskin di daerah perkotaan periode 2018 tercatat 10,14 juta turun 128,2 ribu orang dibandingkan periode September 2017 sebesar 10,27 juta. Sementara itu di daerah pedesaan turun sebanyak 505 ribu orang (dari 16,31 juta orang pada September 2017 menjadi 15,81 juta orang pada Maret 2018). 

Sedangkan dari segi persentase penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat 7,02 persen lebih rendah dibanding periode September 2017 sebesar 7,26 persen. Sementara itu, persentase penduduk miskin di daerah pedesaan pada September 2017 sebesar 13,47 persen, turun menjadi 13,20 persen pada Maret 2018. 

Meski begitu, kemiskinan tetaplah sebuah momok bangsa ini. Kemiskinan berdampak pada kesehatan yang sering kali terabaikan. Berapa banyak rakyat Indonesia yang menderita gizi buruk hingga berujung kepada kematian. 

Meskipun demikian, terdapat hal yang krusial yang bisa disebut-sebut sebagai biang keladi kemiskinan di Indonesia. Salah satu yang kita ketahui dan tak asing di telinga kita adalah korupsi. Korupsi berdampak luar biasa bagi kehidupan masyarakat di desa dan kota. 

Kita bisa lihat dari beberapa kasus yang sering terjadi. Misalanya, pemerintah telah menyiapkan dana untuk pembangunan ataupun untuk program bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun hilang begitu saja ‘ditelan’ oleh  para koruptor.

Korupsi menyebabkan anggaran yang telah terplot dalam APBN menjadi berkurang jumlahnya. Pajak yang dipungut dari rakyat, terkesan sia-sia. Karena yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan negara, namun justru negara mengalami kerugian yang sangat besar.

Milenial Unjuk Gigi

Saat ini eranya generasi mileneal unjuk kebolehan, di mana hampir seluruh aspek kehidupan dipengaruhi oleh generasi muda mileneal dengan berbasis teknologi. Informasi mudah diperoleh, akses ke manapun kita bisa dapatkan dengan mudah, dan kita mau melakukan aktivitas apapun tidak perlu mengeluarkan tenaga. 

Saatnya milineal berbicara, di mana pekerjaan-pekerjaan baru bermunculan. Pekerjaan yang dulu tidak pernah terbayangkan, sekarang justru menjadi pekerjaan yang meraup keuntungan berlimpah. 

Sebut saja seperti youtuber, selebgram, dan social influencer lainnya. Mereka berperan aktif di tengah-tengah kehidupan masyarakat khususnya kalangan anak muda milenial. Nah, apa hubungannya dengan korupsi? 

Tentu kita dapat berpikir visioner, bahwa kita bisa memanfaatkan generasi muda kita untuk berkontribusi memberantas korupsi yang sedang menjangkit negara kita. 

Peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam rangka mendukung generasi muda untuk menyelaraskan fungsi layaknya KPK. Kita bisa sebut sebagai “KPK milenial”. Negara bisa berharap terhadap kalangan muda untuk menyuarakan semangat anti korupsi. 

Artinya mereka dapat memberikan doktrin anti korupsi kepada seluruh masyarakat baik dari kalangan atas sampai kalangan bawah. Tentunya semua itu tak lepas dari peran teknologi yang semakin hari semakin berkembang.

Pemerintah cukup memberikan kepercayaan kepada milenial dengan melakukan langkah-langkah strategis sebagai berikut. 

Pertama mem-boomingkan iklan anti korupsi di stasiun televisi yang sampai sekarang belum pernah ada iklan tersebut. Melibatkan para generasi muda dan para artis untuk tayang di televisi demi menyuarakan anti korupsi dapat menjadi pilihan yang tepat. 

Karena kita tahu bahwa mayoritas penduduk Indonesia tak bisa lepas dari tayangan televisi setiap harinya. Lagipula banyak masyarakat kita yang ngefans dengan artis ibukota. 

Kedua, pemerintah dapat mendukung pembuatan game bertema anti korupsi yang dikemas menarik untuk menggantikan game-game yang sekarang sedang digandrungi oleh remaja seperti PUBG, mobile legend, counter strike dan lain-lain. Ketiga, melibatkan Youtuber dan Social influencer untuk membuat tayangan semangat anti korupsi. Khususnya bagi mereka yang memiliki label sebagai public figure seperti Deddy Corbuzier, Ria Ricis, Raditya Dika, Atta Halilintar, dan lain-lain. Mereka memiliki fans dan subscriber yang melimpah. Keempat, membuat film-film yang bertema anti korupsi dan ditayangkan di bioskop. Film dapat disajikan dalam bentuk film action ataupun film bergenre khusus yang menarik sehingga kaum milineal dapat menikmati film tersebut. Pemerintah dapat melibatkan sutradara-sutradara ternama di Indonesia dan memberikan insentif bagi mereka. Adanya insentif, dapat meningkatkan motivasi bagi para sutradara untuk membuat film anti korupsi yang menarik dan kreatif.

Kelima, pemerintah dapat memberikan insentif kepada para penulis seperti Raditya Dika, Tere Liye, Andrea Hirata, dll untuk dapat membuat novel bertemakan anti korupsi. Selama ini kita mengenal novel-novel bergenre cinta yang sangat digandrungi oleh generasi muda. Tidak ada salahnya, mereka para penulis mencoba membuat novel baru yang bergenre sama, namun diselipkan ideologi anti korupsi. 

Pada prinsipnya, pencegahan korupsi ini bersifat doktrin kepada seluruh masyarakat khususnya di kalangan mileneal. Apabila hanya mengandalkan penindakan terhadap orang-orang yang melakukan korupsi tentu kita tidak dapat membersihkan korupsi secara massif. 

Karena cara seperti itu hanya bersifat pengobatan terhadap penyakit, tidak mencegah penyakit. Kita bisa coba dengan inovasi seperti yang penulis uraikan di atas. Penyadaran diri terhadap generasi muda dapat memberi pemahaman yang komprehensif. Kekuatan doktrin bisa sampai dengan alam bawah sadar manusia dan membentuk pola pikir yang baik. 

Dari pola pikir akan turun ke sikap, dan diimplementasikan dalam perbuatan. Pola pikir yang baik akan membentuk kebiasaan yang baik pula sehingga tanpa harus dilarang dan diatur, setiap orang tetap akan menjaga integritasnya. Dapat dibayangkan apabila Indonesia yang berpenduduk sekitar 240 juta jiwa memiliki kebiasaan yang terbentuk dari doktrin positif tadi dan memiliki satu visi yang sama untuk memberantas korupsi. Bukan hal mustahil, negara kita akan berhasil menghilangkan korupsi di masa mendatang. Jika budaya korupsi hilang, maka program-program pemerintah akan berjalan sebagaimana mestinya. Jika budaya korupsi hilang, maka negeri ini terbebas dari kemiskinan. Sampai pada akhirnya, katakan selamat tinggal pada kemiskinan dan selamat datang kesejahteraan Indonesia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA