Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Fikih Meraih Kemenangan

Jumat 31 May 2019 15:06 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Ramadhan

Ilustrasi Ramadhan

Foto: Pixabay
Kemenangan hakiki menurut Alquran adalah ketika seseorang dijauhkan dari neraka

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Habiburrahman El Shirazy JAKARTA — Kemenangan hakiki menurut Alquran adalah ketika seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Dalam surah Ali Imran ayat 185, Allah SWT berfirman, "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan."

Kelak, ketika orang-orang yang meraih kemenangan sejati itu telah dimasukkan ke dalam surga dan dipertemukan dengan keluarganya yang saleh di sana, para malaikat datang dan mengucapkan selamat kepada mereka. Surah ar-Ra'd (23- 24) melukiskan kejadian itu dengan sangat indah, "Yaitu Surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (seraya mengucapkan) salaamun 'alaikum bimaa shabartum (Selamat sejahtera atasmu karena kesabaran mu). Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu." Mari perhatikan dengan saksama ucapan selamat para malaikat itu.

Malaikat menyampaikan bahwa para penghuni surga meraih rahmat Allah dimasukkan ke dalam surga dan dikumpulkan dengan keluarga besarnya karena kesabaran mereka (bimaa shabartum). Sabar yang seperti apa yang mengantarkan mereka meraih kemenangan hakiki itu?

Dalam ayat sebelumnya, Allah menjelaskan, "Dan orang-orang yang sabar mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepadanya secara sembunyisembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik."

Dalam Tafsir Jalalain, "sabar mencari keridhaan Tuhannya" itu terwujud dalam tiga bentuk sabar, yaitu sabar dalam taat kepada Allah, sabar dalam menjauhi segala maksiat kepada Allah, dan sabar atas ujian musibah yang menimpa. Dan tiga macam kesabaran itu sesungguh nya terkumpul dalam puasa.

Karena itu, wajar jika para ulama sering menyebut bulan suci Ramadhan sebagai syahrus shabr (bulan sabar), madrasatus shabr (madrasah sabar), karena puasa melatih untuk sabar, menggembleng untuk sabar. Nabi SAW bersabda, "Ash shaum nifsus shabri." Artinya, puasa adalah separuh kesabaran. (HR Tirmidzi).

Siapa saja yang ingin meraih kesuksesan dan kemuliaan hidup, baik di dunia maupun akhirat, harus memiliki modal kesabaran. Sejarah orang-orang yang sukses di dunia adalah sejarah orang-orang yang ulet dan sabar. Demikian juga sejarah orang-orang saleh yang meraih kesuksesan dan kemenangan sejati di akhirat adalah sejarah manusiamanusia yang sabar luar biasa.

Dan puncak manusia paling sabar adalah para nabi yang mendapat julukan Ulul 'Azmi. Sayyidina Umar bin Khattab RA berkata, "Kita meraih kemuliaan hidup kita dengan kesabaran." Inilah fikih (pemahaman) meraih kemenangan sejati.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA