Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Perjalanan Bisnis Membangun Fintech Pertama di Indonesia

Sabtu 08 Jun 2019 05:35 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya

Vishal Tulsian, Managing Director Amar Bank

Vishal Tulsian, Managing Director Amar Bank

Foto: dok. Amar Bank
Aplikasi Tunaiku menjadi platform fintech pertama di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebelum berbagai platform Financial Technology (fintech) bermunculan di Indonesia akhir-akhir ini, Amar Bank telah lebih dulu menghadirkan aplikasi Tunaiku tepatnya pada 2014 silam. Sejak diluncurkan hingga saat ini, Tunaiku mengalami perkembangan yang sangat cepat.

Tercatat, tunaiku telah meyalurkan kredit mencapai Rp 1 triliun dari yang awalnya hanya Rp 200 miliar. Tidak hanya itu,  Tunaiku juga telah diinstal oleh satu juta pengunduh dengan jumlah nasabah lebih dari 200 ribu yang bertumbuh.

Baca Juga

Managing Director Amar Bank, Vishal Tulsian, pun menceritakan perjalanan membangun Tunaiku. Menurutnya, jenis perusahaan berbasis fintech pada 2014 lalu masih belum dikenal oleh masyarakat Indonesia. Namun, lima tahun lalu, Vishal melihat ada peluang yang besar untuk perkembangan fintech di Indonesia.

"Teknologi seharusnya dapat mengurangi kesenjangan yang ada, teknologi harus memberikan dampak positif pada kehidupan masyarakat. Karena itu, saya membuat produk untuk mereka yang belum atau kurang terlayani oleh layanan perbankan. Saya yakin teknologi keuangan akan berkembang dan akan diadopsi di Indonesia,” kata Vishal kepada Republika baru-baru ini.

Vishal mengaku menghadapi sejumlah tantangan saat mendirikan Tunaik. Salah satunya proses birokrasi yang cukup panjang, mulai dari mendatangai Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bank Indonesia (BI), hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sampai akhirnya pemerintah pun mengeluarkan ijin untuk mendirikan Tunaiku sebagai produk pinjaman tanpa agunan Amar Bank.

Pada awal Tunaiku beroperasi, sebagian besar dana pinjaman yang berhasil disalurkan digunakan oleh penerima pinjaman untuk membiayai kebutuhan sehari-hari yang mendesak, seperti, pengobatan ke rumah sakit. Sekarang, lebih banyak dari mereka meminjam untuk merenovasi rumah, modal usaha mikro, dan pendidikan.

Pertumbuhan Amar Bank ini turut berperan pada pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia yang mencapai 12,45 persen di sepanjang 2018. Dari sisi rasio net pinjaman bermasalah (NPL) pada 2018 mencapai -0.61 persen.

Layanan Tunaiku saat ini tersedia di 16 kota besar. Nilai pinjaman yang ditawarkan berkisar Rp 2 juta sampai dengan Rp 20 juta dengan tenor pinjaman 6-20 bulan.

“Pertumbuhan ini memperlihatkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap produk perbankan yang menyediakan layanan kredit serta layanan perbankan lainnya. Amar Bank sebagai bank modern yang berada pada era digital, menghadirkan teknologi untuk mengakomodasi kebutuhan nasabah terhadap pelayanan kredit yang cepat dan masif melalui produk unggulannya, Tunaiku,” jelas Vishal Tulsian.

Dengan adanya pencapaian yang cukup tinggi, Vishal mengaku optimis melihat geliat pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Tahun ini Vishal berharap Tunaiku dapat menjangkau segmen yang lebih luas khususnya pengusaha UMKM, dengan meningkatkan jumlah pinjaman. Tunaiku juga berencana meluncurkan fitur khusus untuk pelaku UMKM.

"Tunaiku saat ini tengah mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh pelaku usaha kecil dan mikro," tuturnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA