Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Mudik Jasmani dan Rohani

Kamis 30 May 2019 02:00 WIB

Red: Joko Sadewo

Hasanul Rizqa

Hasanul Rizqa

Foto: dok. Republika
Jangan sampai mudik jasmani berhasil ditempuh, tetapi kehilangan hakikat mudik rohani

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasanul Rizqa*

Kata mudik berarti ‘pergi ke udik.’ Dalam bahasa Betawi, mudik itu ‘menuju ke selatan atau hulu sungai.’ Lawan katanya adalah milir yang berarti ‘menuju ke utara atau hilir sungai.’ Karena itu, ada ungkapan hilir-mudik yang berarti ‘pergi ke sana-kemari’ atau ‘mondar-mandir.’

Belakangan, mudik mengalami pergeseran makna. Mudik berarti pulang ke kampung halaman. Jarak yang ditempuh bisa ratusan kilometer. Lebih khusus lagi, mudik biasanya terjadi pada bulan suci Ramadhan. Puncak arus mudik berlangsung menjelang Lebaran. Para pemudik ingin mengisi Hari Raya bersama keluarga tercinta, yang berbulan-bulan lamanya mereka tinggalkan untuk mencari nafkah di perkotaan.

Perjalanan mudik dalam konteks Ramadhan sebenarnya tidak hanya soal fisik, tetapi juga rohani. Mudiknya seorang Muslim adalah perjalanan pulang. Dia kembali kepada fitrah diri yang suci, sebagaimana dahulu dia dilahirkan ke dunia. Pada 1 Syawal, tiap Muslim merayakan Idul Fitri setelah berjuang satu bulan penuh melalui ibadah-ibadah, khususnya puasa.

Mengutip buku 'Ensiklopedi Nurcholis Majid', Idul Fitri berasal dari ungkapan berbahasa Arab, ‘Id al-Fithr. Akar kata ‘id sama seperti ‘adah atau isti’adah. Semua itu mengandung makna ‘terulang kembali.’ Bahasa Indonesia menyerapnya menjadi adat-istiadat yang berarti ‘tata kelakuan yang dilakukan berulang sehingga turun-temurun.’ Perayaan pada 1 Syawal disebut ‘Id al-Fithr karena momennya selalu datang setiap satu tahun sekali.

Adapun kata fithr berasal dari fithrah yang berarti ‘kejadian asal yang suci.’ Kesucian yang dimaksud berarti kewajaran atau keadaan sebagaimana Allah SWT menciptakannya. Sebagai contoh, berbuka puasa disebut sebagai iftar. Kata itu berasal dari bahasa Arab, ifthar, yang memiliki akar fithr. Maknanya, seseorang yang melakukan iftar kembali kepada kebutuhan dasarnya, yakni makan dan minum, setelah seharian berpuasa.

Makan dan minum bagi manusia itu wajar untuk mempertahankan hidup. Demikian pula dengan menikah atau berkeluarga. Karena itu, Rasulullah SAW pernah melarang orang yang hendak selibat. Beliau menunjukkan, sebagai utusan Allah dirinya tetap manusia yang wajar. Dia menikah, berkeluarga, berdagang, dan sebagainya. 

Karena itu, Hari Raya Idul Fitri bermakna kembalinya diri kepada kemanusiaan yang wajar, sebagaimana dahulu seorang insan lahir di dunia sebagai bayi yang suci dari dosa-dosa.

Maka dari itu, jangan sampai kita lalai. Persiapkan diri untuk mudik rohani alias momen Idul Fitri. Siapkah kita kembali fitrah sebagai manusia?

Persiapan mudik jasmani bisa macam-macam. Misalnya, mengecek kondisi kendaraan, membeli tiket, membawa oleh-oleh, dan lain-lain. Sementara itu, persiapan mudik rohani berintikan pada meningkatkan ketakwaan, terutama di penghujung Ramadhan.

Rasulullah SAW memberikan teladan. Ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, beliau lebih bersemangat dalam menunaikan amal ibadah bila dibandingkan dengan hari-hari lainnya (HR Muslim). Ada setidaknya tiga kebiasaan Nabi SAW bila memasuki 10 hari terakhir Ramadhan.

Pertama, menghidupkan malam-malam Ramadhan. Aisyah RA mengatakan, “Aku tidak melihat Rasulullah SAW membaca Alquran atau shalat sepanjang malam sampai pagi selain pada bulan Ramadhan.”

Kedua, membangunkan keluarganya untuk melaksanakan shalat malam. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan, “Ketika memasuki 10 hari terakhir (Ramadhan) beliau bertahajud, bersungguh- sungguh, dan membangunkan keluarganya dan anak-anaknya untuk shalat bila mereka mampu.”

Ketiga, menyingsingkan lengan baju. Maknanya, Nabi SAW menjauhi hubungan suami-istri, untuk kemudian lebih tekun beribadah. Caranya bisa dengan menggiatkan iktikaf di masjid. Dengan mengikuti tuntunan Rasul SAW itu, harapannya kita dapat meraih keberkahan Lailatul Qadar, sehingga dengan hati gembira menyambut Idul Fitri.

Jangan sampai mudik jasmani berhasil ditempuh, tetapi kita kehilangan hakikat mudik rohani. Tidak berarti membatalkan pulang kampung. Silaturahim dengan sanak-famili sangat bagus. Namun, lebih bagus lagi bila habluminallah juga ikut ditingkatkan, sehingga diri dan keluarga memeroleh ampunan dan ridha-Nya ketika meninggalkan Ramadhan menuju 1 Syawal. Inilah kemenangan yang nyata.

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA