Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

 

Muslim Desa Wakai Peringati Malam Tujuh Likur

Kamis 30 Mei 2019 05:07 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Warga mengikuti pawai obor menyambut bulan Ramadhan 1440 Hijriah di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (5/4/2019).

Warga mengikuti pawai obor menyambut bulan Ramadhan 1440 Hijriah di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (5/4/2019).

Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Warga Muslim Desa Wakai Peringati MalamTujuh Likur dengan menyalakan obor.

REPUBLIKA.CO.ID, Ambon -- Warga muslim di Desa Wakal, Kecamatan Leihitu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku pada Rabu (29/5) punya tadisi unik di dalam memperingati malam Nuzulul Alquran atau malam tujuh likur Ramadhan dengan unik. Mereka. menyalakan ratusan lilin, pelita dan obor di berbagai kawasan tempat tinggalnya.

Traidisi tersebut dibaratkan mengadakan sebuah festival cahaya. Pada peringatan malam tujuh likur di Desa Wakal berpendar terang cahaya dari ratusan lilin, pelita dan obor yang dinyalakan di teras-teras rumah penduduk. Berbagai sudut jalan dan kawasan, menjadi mandi cahaya, bahkan termasuk di kompleks pemakaman.

Ratusan lilin, pelita dan obor tersebut mulai dinyalakan oleh warga setempat selepas Maghrib. Terang cahaya ini baru akan dipadamkan saat fajar tiba.

Peringatan malam tujuh likur di Wakal ini juga diramaikan oleh anak-anak dan remaja setempat. Mereka berjalan keliling kampung membawa obor sambil bertakbir, dan menyanyikan lagu suka cita tentang Hari Raya Idul Fitri.

Parade keliling kampung dengan membawa obor keliling tersebut dilaksanakan usai shalat Maghrib. Mereka baru akan menghentikan kegiatan ini saat memasuki waktu shalat Isya.

Desa Wakal sebenarnya berada di antara Desa Hitu Lama dan Hila. Tempat  ini merupakan salah satu dari 12 kampung berpenduduk Muslim di Kecamatan Leihitu. Selain punya tradisi unik, umat muslim di Wakal diketahui melaksanakan ibadah puasa 1 Ramadhan 1440 Hijriah pada 4 Mei 2019, atau dua hari lebih dulu dari yang ditetapkan oleh Kementerian Agama RI.

Sebagai desa adat, hingga kini memang desa Wakal masih mempertahankan tradisi-tradisi yang dilaksanakan sejak masa leluhur mereka. Selain itu mereka juga masih menetapkan waktu pelaksanaan ibadah 1 puasa Ramadhan tersendiri yakni tidak hanya menggunakan metode perhitungan hisab secara rukyat.  Tetapi juga berpatokan pada kalender falakiah kuno yang tersimpan di Masjid Nurul Awal.

Acara memperingati malam tujuh likur dengan menyalakan banyak cahaya,  dilaksanakan oleh warga Wakal secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Tujuannya adalah untuk menerangi kampung dengan banyak cahaya sebagai ungkapan syukur dan suka cita terhadap turunnya firman Alquran. Dalam kepercayaan mereka Alquran merupakan cahaya penerangan bagi seluruh kaum Muslimin.



Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES