Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

 

Shinta Nuriyah: Puasa Benteng dari Virus Kebencian dan Hoax

Rabu 29 May 2019 22:57 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Istri Alm. Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Wahid.

Istri Alm. Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Wahid.

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Puasa membentengi diri dari hawa nafsu dan amarah.

REPUBLIKA.CO.ID, JEMBER— Mantan ibu negara Shinta Nuriyah, istri almarhum KH Abdurrahman Wahid mengajak masyarakat  selalu menjaga persatuan dan memerangi hoaks dengan tidak menyebar berita bohong demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga

"Kerukunan sangat dibutuhkan saat ini, sehingga perlu dijaga kebersamaan, persaudaraan, saling menghormati, dan saling menghargai adalah pilar utama tegaknya sebuah negara NKRI," katanya dalam kegiatan buka puasa bersama Komunitas Tanoker di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (29/5).

Shinta memberikan ceramah bertema "Kita Padamkan Kobaran Api Kebencian dan Hoaks" yang dihadiri  Komunitas Tanoker, sekolah eyang, elemen masyarakat lintas agama, ulama, romo, pejabat, kalangan Muslimat, pemuda dan beberapa LSM yang bergerak dibidang kemanusiaan.

"Sebagai anak bangsa Indonesia yang memiliki keragaman suku, budaya, agama, dan berbagai macam perbedaan, maka punya tanggung jawab menjaga kedamaian di tanah air Indonesia," katanya.

Menurutnya pelaksanaan Pemilu 2019 baik pemilu presiden maupun legislatif berjalan dengan aman, lancar, damai, dan kondusif, namun pascapemilu virus kebencian merajalela, sehingga terjadi kerusuhan di ibu kota Jakarta, namun dia mengakui hal tersebut tidak merembet ke daerah-daerah yang dikunjungi selama Ramadhan.

"Semua harus membentengi dan mempersiapkan diri untuk memerangi virus kebencian dengan berdoa dan melaksanakan ajaran yang dilakukan selama Ramadhan yakni puasa mengajarkan untuk sabar, menahan hawa nafsu, dan bersyukur," tuturnya.

Shinta mengajak semua elemen bangsa untuk selalu menjaga kebersamaan, saling menghormati dan saling menghargai, serta memaknai secara positif ''Bhinneka Tunggal Ika'' sebagai perajut kerukunan anak bangsa untuk memperkuat NKRI.

"Meski kita berbeda-beda, namun tetap satu yakni satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yang menjadi pengikat bangsa Indonesia, sehingga tidak boleh ada permusuhan dan menyebar kebencian yang dapat merusak NKRI," katanya.

Shinta juga mengajak warga lanjut usia (lansia) tetap bersemangat untuk membina anak bangsa menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional karena para eyang-eyang tersebut merupakan lentera dan mercusuar bagi anak bangsa Indonesia.

"Saya berharap para lansia tidak loyo dan menganggap tidak berguna, namun harus memiliki semangat yang membara untuk membina anak bangsa yang lebih baik," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES