Saturday, 10 Jumadil Akhir 1442 / 23 January 2021

Saturday, 10 Jumadil Akhir 1442 / 23 January 2021

Menlu Iran Serang Balik Usai Trump Komentar Senjata Nuklir

Selasa 28 May 2019 10:11 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Mohammad Javad Zarif,

Mohammad Javad Zarif,

Foto: News
Trump mengatakan ingin mencegah Iran membuat senjata nuklir.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyerang balik Amerika Serikat (AS) usai komentar Presiden AS Donald Trump terkait senjata nuklir. Zarif menegaskan Iran tidak membuat senjata nuklir dan menuduh AS yang menyebabkan ketegangan.

Zarif menyampaikan dalam sebuah unggahanTwitter pada Senin (27/5). Ia menuduh AS, yang baru-baru ini meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah, menyebabkan ketegangan regional dan melukai rakyat Iran.

"Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sejak lama mengatakan kami tidak membuat senjata nuklir, dengan mengeluarkan fatwa (larangan) yang melarang hal itu," kata Zarif, dilansir Aljazirah, Selasa (28/5).

Komentarnya muncul setelah Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran mengenai program nuklirnya dimungkinkan. "Kami tidak mencari perubahan rezim, saya hanya ingin memperjelasnya. Kami tidak ingin ada senjata nuklir," kata Trump kepada wartawan dalam konferensi pers dengan Perdana Menteri Jepang Abe Shinzo di Tokyo.

"Saya benar-benar percaya Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya pikir itu sangat cerdas dari mereka, dan saya pikir itu kemungkinan terjadi. Ini memiliki peluang untuk menjadi negara yang hebat dengan kepemimpinan yang sama," ucap Trump.

Sebagai tanggapan, Zarif membalas melalui Twitter, "Tindakan, bukan kata-kata, akan menunjukkan apakah itu maksud Donald Trump atau tidak," sebut Zarif.

Presiden Iran, Hassan Rouhani mengatakan pada Oktober AS sedang mencari perubahan rezim di Iran. Kemudian menambahkan pemerintahan Trump menjadi yang paling bermusuhan pada negara itu dalam empat dekade.

Zein Basravi dari Aljazirah melaporkan dari Teheran, menyatakan para pemimpin Iran cenderung melihat retorika yang lebih lembut dari Trump merupakan sesuatu hal yang tidak tulus. Ini karena adanya sanksi ekonomi yang agresif dan peningkatan militer di wilayah tersebut. Dua hal tersebut dijadikan ukuran sebenarnya dari niat AS terhadap Iran

"Untuk saat ini, mereka memfokuskan energi diplomatik mereka untuk menjangkau mitra regional untuk mencoba memulai semacam kerja sama keamanan yang berupaya keras untuk mengeluarkan AS," kata Basravi.

AS juga telah mengumumkan rencana mengerahkan 1.500 tentara tambahan ke Timur Tengah. Ini memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik.

Disebutkan rencana terbaru dalam menanggapi serangan baru-baru ini termasuk roket yang diluncurkan ke Zona Hijau di Baghdad, alat peledak yang merusak empat kapal tanker di dekat pintu masuk ke Teluk. Sementara Iran telah membantah terlibat dalam serangan itu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA

 
 
 

TERPOPULER

Kamis , 01 Jan 1970, 07:00 WIB