Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Rektor Unissula Ajak Pensiunan Unissula Tetap Berkontribusi

Senin 27 May 2019 15:58 WIB

Rep: Bowo pribadi/ Red: Esthi Maharani

Salah satu sudut kampus Unissula Semarang, Jawa Tengah.

Salah satu sudut kampus Unissula Semarang, Jawa Tengah.

Foto: http://imams.edublogs.org
Rektor pun meminta pensiunan memberikan dukungan dan kontribusi

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Masa purna tugas (pensiun) bukanlah akhir bagi seseorang untuk terus berkontribusi bagi lembaga pendidikan tinggi. Sebaliknya melalui pengalaman selama bertahun-tahun, pensiunan bisa berkontribusi. Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Prabowo Setiyawan mengatakan kontribusi bisa banyak bentuknya seperti doa, gagasan maupun sumbang saran serta pemikiran, berdasarkan pengalamannya selama menjadi bagian dari keluarga besar Unissula.

Untuk itu, Rektor pun meminta pada para dosen dan karyawan Unissula yang telah memasuki masa pensiun untuk tetap memberikan dukungan dan berkontribusi dalam memajukan kampus ke depan.

“Kami berharap doa, masukan yang membangun, serta dukungan para dosen dan karyawan  yang telah pensiun untuk berkontribusi bagi kemajuan Unissula,” katanya, dalam keterangan pers yang diterima Republika, Senin (27/5).

Prabowo juga menjelaskan, dalam acara berbuka bersama ini, civitas akademika Unissula selalu melibatkan dosen dan karyawan Unissula, baik yang masih aktif maupun mereka yang telah memasuki masa pensiun.

“Kegiatan ini juga merupakan tindak lanjut agenda Unissula dalam membangun kedekatan dengan para pensiunan yang telah teragendakan secara berkala, setahun tiga kali pertemuan,” tambahnya.

Sementara itu, dalam kesempatan ini juga diisi tausyiah oleh Uztas Mustofa, pengasuh Popes Baitussalam, Mijen, Kota Semarang. Dalam tausiyahnya, Uztas Musthofa menyampaikan, menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan memiliki makna dua jihad, yakni berjihad di siang hari dengan menahan lapar, amarah, ketidakjujuran dan lainnya.

Sedangkan jihad pada malam hari, adalah menisinya dengan qiyamullail yaitu melaksanakan sholat malam, berdzikir dan lainnya.

“Allah SWT menjanjikan barang siapa mampu mengumpulkan dua jihad tersebut dibulan Romadhan, maka akan diberikan pahala yang besar dan tak bisa dihitung,” ungkapnya.

Di sii lain, Mustofa juga memaparkan, hal utama yang tak bolah dilupakan dalam menjalankan ibadah adalah istiqomah, yakni senantiasa menjalankan ibadah secara berkelanjutan karena amalan yang berkesinambungan sangat disukai Allah dari pada amalan yang sporadis.

“Makanya, di bulan yang penuh berkah dan rahmat ini menjadi momentum yang sangat baik bagi umat untuk terus memperbanyak amalan dan kebaikan,” katanya

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA