Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Tradisi Ramadhan Masyarakat Najdi di Saudi Dulu dan Kini

Kamis 23 May 2019 21:21 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Ramadhan

Foto:
Tradisi itu telah berevolusi secara bertahap dari waktu ke waktu.

Merais dibuat dengan cara merendam kurma dalam air, lalu menyaringnya menjadi jus kental. Beberapa orang di wilayah ini biasa menikmati Merais dengan 'iqt', yoghurt kering dan bubuk. Yoghurt itu akan memberikan rasa asam pada minuman tradisional tersebut. Minuman Ramadhan yang paling umum dan tradisional di kalangan orang-orang Najdi adalah susu unta dan laban yang terbuat dari susu domba. 

Saat ini, meminum laban menjadi hal biasa di masyarakat Najdi. Mereka meminumnya saat memakan kurma. Adapula yang memakan kurma sembari meminum kopi untuk berbuka puasa. 

Menurut DGDA, wilayah Najdi dikenal di Semenanjung Arab karena makanan lokalnya. Hidangan terkenal yang berasal dari wilayah ini adalah 'henaney'. Henaney merupakan sarapan manis yang terbuat dari adonan gandum, berbagai jenis kurma, dan pasta kurma kental yang dikenal sebagai 'abet el tamer'. Satu variasi 'henaney' adalah 'Al-Hayes', yang dibuat dengan 'iqt'. Makanan ini dikaitkan dengan Putra Hanifa dan tetap menjadi salah satu makanan Najdi paling terkenal.

Pada awal 1980an, hidangan baru diperkenalkan ke meja berbuka puasa Najdi selama Ramadhan melalui importir. Kala itu, masyarakat mulai mengenal Samosan, pasta, luqiamat (pangsit manis nan renyah), dan makanan asing lainnya.

Salah seorang warga Najdi, Muneerah Al-Ajlan, mengatakan bahwa sup dan samosa diperlukan di meja buka puasa mereka. Saat berbuka, keluarga di wilayah ini biasanya berkumpul untuk menikmati kurma dan kopi. 

"Setelah itu, para lelaki pergi ke masjid, sementara para wanita menuju ke dapur untuk menyiapkan bagian kedua dari hidangan berbuka puasa," ujar Al-Ajlan, dilansir dari Arab News, Kamis (23/5). 

Baru-baru ini, banyak orang dan lingkungan di Riyadh mulai merayakan Gargeean. Tradisi itu terutama dilakukan di wilayah Teluk Timur. Biasanya, perayaan ini berlangsung pada malam ke-15 Ramadhan. Anak-anak biasanya mengenakan kostum tradisional dan pergi dari pintu ke pintu untuk menerima permen dan kacang-kacangan dari tetangga. Mereka berkeliling sembari menyanyaikan lagu-lagu tradisional. 

"Di akhir pekan kedua Ramadhan, kami merayakan Gargeean di rumah kami, tempat seluruh keluarga berkumpul dan anak-anak membagikan permen," tambahnya

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA