Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Darmin Nasution: Kisruh Politik Hanya Berikan Kerugian

Kamis 23 May 2019 14:43 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Darmin Nasution

Darmin Nasution

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Kisruh politik 22 Mei menimbulkan reaksi terhadap pelaku ekonomi di banyak sektor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, menegaskan situasi politik yang terus memanas dan kian tak kondusif hanya akan memberikan dampak negatif bagi kegiatan perekonomian. Ia meminta masing-masing kubu untuk menahan diri agar situasi domestik kembali kondusif.

"Urusan politik tidak nyambung dengan logika ekonomi. Intinya ini semua hanya merugikan kita saja," kata Darmin kepada wartawan di kantornya, Kamis (23/5).

Darmin juga meminta untuk kepada pihak-pihak yang bersengketa dengan hasil Pemilihan Umum 2019 untuk menempuh jalur yang sesuai dengan perundang-undangan. Dengan begitu, seluruh persoalan yang ada saat ini dapat diselesaikan secara baik-baik.

Ia menilai, kerusuhan yang terjadi pada Aksi 22 Mei kemarin memang menimbulkan reaksi terhadap para pelaku ekonomi di banyak sektor. Hanya saja, mantan Gubernur Bank Indonesia itu meyakini dampak yang ditimbulkan hanya sementara sehingga tak perlu dikhawatirkan.

Terhadap investasi yang masuk, Darmin menyampaikan, bukan berarti tidak akan terpengaruh. Dalam situasi yang tegang seperti saat ini akan ada banyak kemungkinan sehingga membuat para calon investor memilih wait and see.

"Tapi, kan sebentar lagi akan ada waktu dia tenang kembali. Jadi tidak perlu dianggap berdampak pada investasi tahun ini. Ini bukan cerita tahun tapi hanya minggu ini," ujarnya.

Di tengah kondisi domestik yang kurang kondusif, Indonesia masih terus berada dalam tantangan dinamika perekonomian global. Organisation for Economic Co-operaton and Development (OECD) baru saja menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 3,3 persen menjadi 3,2 persen.

Darmin mengatakan, pemangkasan proyeksi itu wajar karena memang telah diperkirakan banyak pihak. Meskipun ketegangan global akibat perang dagang antara AS dan Cina diyakini bakal dimenangkan oleh AS, semua pihak akan menderita akibat dampaknya.

Karena itu, ia menyampaikan pemerintah Indonesia harus lebih keras dalam berusaha mempertahankan apa yang telah dicapai di sektor perekonomian nasional saat ini. Ia optimistis, pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2019 akan mencapai targetnya, 5,3 persen.

Tantangan kemudian akan datang dari negara-negara berkembang lainnya yang juga ingin memanfaatkan perang dagang untuk mengambil ceruk pasar perdagangan global. Oleh sebab itu, Indonesia harus benar-benar mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki saat ini untuk menjaga laju pertumbuhan dan ketahanan terhadap eksternal.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA