Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Panjang Umur Perjuangan Mahasiswa!

Rabu 22 May 2019 19:38 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ilustrasi Demontrasi Mahasiswa

Ilustrasi Demontrasi Mahasiswa

Foto: Foto : MgRol112
Mahasiswa adalah interpretasi kaum intelektual dan terpelajar.

Mahasiswa adalah interpretasi kaum intelektual dan terpelajar. Ide dan gagasan, prestasi, bahkan pergerakan mahasiswa menjadi sorotan sebuah negeri. Dengan pola fikir yang cerdas dan kritis, mahasiswa kerap menawarkan gagasan untuk memecahkan persoalan masyarakat.

Namun saat ini mahasiswa tidak lagi kritis dan memikirkan nasib rakyat. Mayoritas mahasiswa disibukkan dengan urusan individu masing-masing, tidak lagi peka terhadap persoalan yang ada. Memang, masih ada mahasiswa yang peduli dan berani bersuara, namun bila dibanding jumlah keseluruhan mahasiswa, sangat kecil. 

Tetapi, sekecil apapun suara mahasiswa sudah sangat berarti bila berani bersuara. Mengapa harapan besar itu digantungkan pada pundak mahasiswa?

Sebab mahasiswa memiliki energi dan potensi besar untuk memikirkan dan menyuarakan kebenaran tanpa diboncengi kepentingan pihak tertentu. Memiliki idealisme yang masih terjaga, melihat kesengsaraan rakyat dengan jeli, me-review peraturan dan hukum yang berkaitan kepentingan rakyat, serta memikirkan solusi hakiki untuk seluruh persoalan dengan fikiran jernih.

Selasa (21/5) tepatnya 21 tahun reformasi, sejumlah Ormawa (organisasi mahasiswa) turun ke jalan untuk aksi dan menyuarakan aspirasi. Aksi ini tersebar di berbagai wilayah mulai dari Unsyiah Aceh, USU dan Unimed di Kota Medan hingga Pulau Jawa.

Adapun aksi mahasiswa di Kota Medan bertajuk “Evaluasi & Cita-Cita Reformasi” yang disuarakan mulai dari Lapangan Merdeka Medan dan berakhir di Kantor DPRD Sumut. Aksi diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi. 

Bulan Mei memang bulan aspirasi mahasiswa, sebab bertepatan dengan reformasi. Melanjutkan estafet perjuangan mahasiswa patut diapresiasi namun perlu diperhatikan apakah perjuangan mahasiswa sudah sampai solusi hakiki atau hanya berkutat solusi parsial.

Dilihat dari beberapa point tuntutan mahasiswa se-Kota Medan, salah satunya adalah menuntut pemerintah dan DPR untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem pemilu dan menolak proyek OBOR di Indonesia khususnya di Sumatera Utara.

Jika ditinjau ulang, tuntutan mahasiswa masih seputar permasalahan parsial (contoh: pemilu) yang sifatnya cabang, mengikuti akarnya. Akar dari permasalahan pemilu adalah demokrasi, dimana demokrasi memiliki metode untuk memilih pemimpin ,yakni pemilu. Artinya, pemilu yang buruk sesungguhnya disebabkan sistem demokrasi yang memang sudah cacat bawaan telah terbukti tidak akan mampu membawa kesejahteraan.

Saat ini, masyarakat sudah sangat rindu dengan suara mahasiswa. Ketika demokrasi terbukti rusak maka seharusnya mahasiswa-lah yang berada di garda terdepan bersuara menolak sistem rusak tersebut.

Tentu mahasiswa harus menyuarakan solusi hakiki untuk problematika masyarakat, sebab dengan tuntutan parsial tidak akan mampu menyelesaikan masalah hingga ke akar. Hanya dengan perubahan mengakar yang dapat menyelesaikan problematika hingga ke akar.

Solusi hakiki tentunya yang berasal dari Sang Pencipta Allah SWT, yang Maha Mengetahui aturan yang sesuai dengan hamba-Nya. Solusi tersebut tidak diambil secara parsial namun harus secara keseluruhan.

Semoga mahasiswa tidak hanya bersuara pada tanggal tertentu saja, bagai ajang tahunan. Karena masyarakat setiap hari menjerit dengan himpitan buah sistem menjepit. Panjang umur perjuangan mahasiswa! Masyarakat membutuhkan suaramu.

Pengirim: Lestari Sormin, aktivis pers mahasiswa kreatif Universitas Negeri Medan

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA