Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Sikapi Pilpres, Keturunan Pendiri Bangsa Serukan Persatuan

Senin 20 Mei 2019 14:11 WIB

Rep: Rizky suryarandika/ Red: Esthi Maharani

Meutia Farida Hatta  (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Meutia Farida Hatta (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Keturunan panitia BPUPKI deklarasikan persatuan sikapi hasil pilpres

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para keturunan dari panitia sembilan BPUPKI mengadakan pertemuan pada Senin, (20/5) di Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Mereka mendeklarasikan persatuan dalam menyikapi hasil Pilpres.

Diketahui, panitia sembilan dibentuk untuk menyusun dasar negara yang kemudian menjadi pembukaan UUD 1945. Mereka ialah Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, Mohammad Yamin, KH. Wahid Hasyim, Abdoel Kahar Moezakir, Abikoesno Tjokrosoejoso, Agus Salim dan Alexander Andries Maramis.

Anak Agus Salim, Agustanzil Sjahroezah mengatakan deklarasi dilakukan karena para keturunan panitia 9 merasa terpanggil dengan menyaksikan tingginya suhu politik saat ini. Ia menyayangkan perbedaan pilihan malah menjadi jurang pemisah antar warga.

Ia merasa sudah saatnya semua pihak memikirkan kembali perjuangan para pahlawan untuk merdeka. Dengan begitu, ia ingin meredam gejolak politik yang mengancam persatuan.

"Ini komitmen generasi penerus pendiri bangsa, kita punya kebanggaan dari sedikit bangsa yang merdeka dari perjuangan bukan hadiah penjajah. Buktinya diwujudkan dengan menjaganya. Kita telah merdeka, kita harus tahan diri demi jaga persatuan dan kedaulatan bangsa," katanya pada wartawan.

Anak Muhammad Hatta, Meuthia Hatta menekankan segenap anak bangsa punya utang pada pendiri bangsa guna menjaga persatuan dan mewujudkan kemakmuran untuk rakyat. Oleh karena itu, ia meminta pendukung kedua paslon menahan diri demi mencegah memburuknya situasi politik.

"Pilpres terjadi pertentangan nasional karena perbedaan mencolok dalam pilpres. Rakyat beda pendapat tumbuh rasa permusuhan satu sama lain. Seluruh energi nasional terkuras timbulkan kemudharatan," ujarnya.

Kemudian anak Ahmad Subarjo, Rohadi Subardjo menyampaikan tiap anak pendiri bangsa sewajarnya mendorong persatuan tanpa henti. Sebab amanah persatuan wajib dibawa turun temurun pada tiap generasi.

"Kami merasa berkewajiban memperatukan bangsa ini hadapi dilema di masyarakat. Kita berkiblat pada pendirian bangsa harus dijaga persatuan ini," ucapnya.

Selain tiga nama di atas, turut hadir Halida Hatta, Roy Rahajasa Yamin, Salahuddin Wahid dan SR Handini B Maramis. Sayangnya Guntur Soekarnoputra dan perwakilan keturunan Abdoel Kahar Moezakir serta Abikoesno Tjokrosoejoso tidak hadir.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA