Minggu, 17 Zulhijjah 1440 / 18 Agustus 2019

Minggu, 17 Zulhijjah 1440 / 18 Agustus 2019

 

Selama Ramadhan, Volume Sampah di Sukabumi Naik 20 Persen

Senin 20 Mei 2019 09:25 WIB

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Ani Nursalikah

Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi mengangkut sampah di Gang Murni, Kelurahan/Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi Ahad (19/5).

Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi mengangkut sampah di Gang Murni, Kelurahan/Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi Ahad (19/5).

Foto: Republika/Riga Nurul Iman
Kenaikan volume sampah salah satunya karena sampah organik.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Jumlah volume sampah selama bulan Ramadhan di Kota Sukabumi mengalami peningkatan sekitar 20 persen. Penambahan ini sudah diantisipasi Pemkot Sukabumi dengan mengerahkan personel dan armada kebersihan.

Baca Juga

"Dari data yang dihimpun, jumlah sampah yang masuk tempat pembuangana akhir (TPA) naik sekitar 20 persen," ujar Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Endah Aruni kepada wartawan saat memantau pengangkutan sampah di Gang Murni, Kecamatan Warudoyong Ahad (19/5).

Naiknya volume sampah salah satunya berasal dari sampah organik yang naik dua kali lipat. Endah mengatakan pada bulan puasa banyak sampah kelapa muda.

Menurutnya, pada bulan puasa produksi sampah yang masuk ke TPA Sampah Cikundul mencapai 140,98 ton per hari. Padahal sebelumnya jumlahnya di bawah angka tersebut. Ratusan ton sampah ini diangkut dengan menggunakan 38 armada truk sampah.

DLH menggiatkan operasi bersih (Opsih) untuk menekan timbunan sampah saat Ramadhan. Caranya dengan menyisir lokasi pembuangan sampah di lokasi tertentu, seperti di Gang Murni yang dilaporkan terjadi penumpukan.

Petugas mengerahkan personel dan armada truk untuk mengangkut sampah tersebut. Di lokasi tersebut akan dioptimalkan motor sampah di dua kelurahan yakni Warudoyong dan Nyomplong serta akan ditempatkan kontainer penampung sampah. Pemkot berupaya menekan produksi sampah yang ada di masyarakat melalui gerakan memilah sampah, yakni sampah organik dan anorganik serta residu. Ia mencontohkan untuk sampah anorganik seperti botol kaleng dan kardus dikumpulkan di tempat terpisah dan ditabungkan ke bank sampah Sukabumi.

Sampah organik sisa makanan dimasukan ke lubang biopori dan terakhir tersisa residu yang tidak bisa diolah dibuang ke TPA. Pembuatan lubang biopori sampah bisa dilakukan DLH dan tidak dipungut biaya. Jika hal ini diterapkan maka volume sampah yang dibuang ke TPA akan makin berkurang.

Lurah Warudoyong Ian Rojiman mengatakan, warga dan aparat kelurahan mendukung upaya kebersihan yang digiatkan DLH Sukabumi. Terlebih ketika ada laporan warga di Kelurahan Warudoyong langsung direspons dengan mengerahkan pasukan kebersihan ke lokasi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES