Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

UEA Sambut Seruan Raja Salman Gelar Pertemuan Negara Teluk

Ahad 19 May 2019 14:17 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Dwi Murdaningsih

Raja Salman

Raja Salman

Foto: EPA/LINTAO ZHANG/POOL
Raja Salman menyerukan ada pertemyan negara Arab dan Teluk pada 30 Mei.

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI – Uni Emirat Arab (UEA) menyambut seruan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud untuk melakukan pertemuan tingkat tinggi negara-negara Arab dan Teluk. UEA menilai hal itu memang perlu dilakukan mengingat adanya situasi kritis yang sedang dihadapi kawasan tersebut.

“Keadaan kritis saat ini memerlukan sikap Arab dan Teluk yang seragam terhadap tantangan dan risiko yang melanda,” kata Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional dalam sebua pernyataan dilporkan laman kantor berita UEA Emirates News Agency, Ahad (19/5).

UEA menilai, seruan Raja Salman mencerminkan kepemimpinan Saudi yang berkelanjutan untuk membangun perdamaian dan keamanan di kawasan. Dalam hal ini Raja Salman memainkan peran utama dalam menyatukan jajaran dan mengoordinasikan sikap Arab.

Raja Salman menyerukan agar negara-negara Arab dan Teluk menghadiri pertemuan tingkat tinggi di Makkah pada 30 Mei mendatang. Pertemuan tersebut hendak membahas tentang ketegangan yang sedang berlangsung di Teluk, termasuk terkait penyerangan atau sabotase empat kapal tanker di lepas pantai UEA pekan lalu.

Kementerian Luar Negeri Saudi mengatakan selain sabotase kapal tanker, serangan milisi Houthi yang berbasis di Lebanon terhadap dua stasiun pompa minyak Saudi akan turut dibahas. “Ini memiliki implikasi serius bagi perdamaian regional dan internasional serta pasokan dan stabilitas pasar minyak dunia,” kata Kementerian Luar Negeri Saudi.

Peristiwa sabotase kapal tanker seketika menyulut ketegangan. Sebab hal itu terjadi saat Amerika Serikat (AS) mengirim kapal induk dan pesawat bombernya ke Teluk untuk menekan Iran.

Beberapa pejabat di pemerintahan AS menuding Iran sebagai dalang di balik aksi sabotase tersebut. Namun Iran telah membantah. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif justru menuduh pejabat garis keras AS yang mengatur peristiwa itu untuk memancing ketegangan.

Amerika Serikat diketahui sedang memaksa Iran untuk merundingkan kembali kesepakatan nuklir yang tercapai pada 2015. Iran telah menyatakan tak akan bernegosiasi dengan AS.

Baca Juga

Alih-alih manut kepada desakan AS, Iran justru menangguhkan sebagian keterikatannya dalam kesepakatan nuklir. Ia mengklaim tak lagi memiliki batasan untuk melakukan pengayaan uranium.

Iran telah mengatakan tak menginginkan terjadinya peperangan. Kendati demikian, ia meyakini tak ada negara yang berani membuat konfrontasi dengannya. (Kamran Dikarma)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA