Wednesday, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 January 2020

Wednesday, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 January 2020

KH Abdul Hamid: Ulama Rendah Hati, Dicintai Umat

Sabtu 18 May 2019 02:29 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Hasanul Rizqa

KH Abdul Hamid

KH Abdul Hamid

Foto: tangkapan layar PP IPNU
KH Abdul Hamid bersikap rendah hati, memerhatikan umat dari manapun berasal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meskipun memiliki ilmu yang tinggi, KH Abdul Hamid tetap bersikap hormat pada siapapun, termasuk yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat. Semua orang beliau layani dan hargai.

Baca Juga

Dalam buku Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan dijelaskan, jika sedang menghadapi banyak tamu, Kiai Hamid memberikan perhatian pada mereka semua. Bahkan, mereka ditanyai satu per satu, sehingga tak ada yang merasa disepelekan.

Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya. Penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya, kata mantan menteri agama, Prof Mukti Ali, yang pernah menjadi junior dan muridnya di Pesantren Tremas.

Kiai Hamid sangat menghormati para ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya.

Bila ada ulama dan habaib yang bertandang ke rumahnya, Kiai Hamid akan sibuk melayaninya.

Misalnya, ketika seorang ulama kondang Makkah, Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki, ber tamu ke rumahnya, Kiai Hamid sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya berbincang sambil memijatinya. Padahal, tamunya itu lebih muda secara usia.

Sikap tawadhu Kiai Hamid itulah rahasia keberhasilan beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu beliau yang tulus.

Karena itu, tak heran jika derajat Kiai Hamid meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, Barang siapa bersikap tawadhu, Allah akan mengangkatnya.

Bagi sebagian orang, akan sulit menghilangkan kebiasaan menggunjing orang lain.
Bahkan, para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini, baik menggunjing kiai saingannya atau orang lain.

Namun, Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani)orang lain, kata KH Ali Ma'shum.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA