Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

 

Kolak Ubi: Pelepas Dahaga Setelah 19 Jam Berpuasa di Eropa

Kamis 16 May 2019 02:37 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasana buka bersama di Masjid Indonesia Berlin sesaat setelah shalat Maghrib

Suasana buka bersama di Masjid Indonesia Berlin sesaat setelah shalat Maghrib

Foto: Ron Susman
Di Berlin buka puasa dengan kolak ubi dan kolang-kaling sungguh nikmat.

Oleh: Ron Susman, Mahasiswa Indonesia di Berlin, Jerman.

Pada tahun 2019 menjadi tahun istimewa saya melewati bulan Ramadhan di Jerman. Istimewa karena akan menjadi puasa yang menutup perjalanan saya menempuh studi S3 di Technische Universität Berlin.

Setelah Ramadhan ini anak kembali menikmati dinamika kehidupan tanahair yang tentunya bisa menjalankan suasana puasa yang sangat Indonesia. Sayam masih ingat pertamakali saat kembali ke Jerman untuk melanjutkan studi, bulan puasa tahun 2015 jatuh pada bulan Juni di saat Eropa Tengah sedang memasuki awal musim panas dimana perbandingan siang dan malam yaitu 3:1 kira-kira dalam 24 jam tiga per empatnya adalah waktu matahari terang benderang danmenyisakan seperempat sajauntuk waktu malam.

Ini jelas terasa berat bagi kita yang terbiasa melaksanakan puasa dalam durasi 12-13jam, tetapi yang lebih membuat fisikter kuras habis adalah aktivitas penelitian lapangan yang harus dilakukan di lokasi terbuka pada suhu rata-rata 30C dengan angin dari pantai utara Jerman yang panas. Mundur sepuluh tahun lalu ke 2009, saya tengah berada di Jerman untuk menempuh studi master, saat itu merupakan pertama kali melewat ipuasa cukup panjang.

Akan tetapi karena bertepatan dengan peralihan musim panas ke musim gugur yang relatif sejuk, tantangan cuaca hampir tidak ada kalau pun durasi siang cukup panjang tapi tak seperti saat musim panas di mana matahari terbit pukul 2 dini hari dan terbenam setelah pukul 21.

Seperti umumnya di Eropa, puasa tahun ini seperti halnya sepuluh tahun lalu dilewati selama 19 jam lebih.

Semakin mendekati penghujung Ramadan terbenamnya matahari semakin mendekati waktu tengah malam. Konon menurut perhitungan astronomi, perlu 8 tahun untuk bisa bertemu puasa saat musim dingin dimana siang hanya 6 jam.

Begitu pula dengan waktu terbit matahari penanda berakhirnya waktu sahur yang rasanya terlalu singkat dibanding panjangnya siang.Sedikit beruntung kali ini puasa belum memasuki puncak musim panas, artinya tidak akan bertemu penggabungan dua waktu sholat Maghrib dan Isya seperti tahun sebelumnya.

Itu artinya selepas Maghrib pukul 21.00 masih ada waktu untuk makan dan mencicipi hidangan dengan leluasa untuk selanjutnya memasuki waktu Isya pukul 22.30 dan bersiap 3 jam kemudian untuk bersahur.

Tapi tantangan puasa tetapt akberkurang, mengatur jadwal tidur yang semakin tak teratur memang paling memberatkan. Cara mengatasinya adalah memajukan waktu tidur dan Ashar menjelang memasuk iwaktu Maghrib, dengan demikian badan tetap memiliki waktu istirahat yang cukup.

photo

Jadwal Maghrib dan Imsak untuk Berlin dansekitarnya (dok. Komunita Muslim Berlin).

Berbuka puasa yang sangat Indonesia

Suasana puasa di masjid Indonesia Berlin (IWKZ Berlin) sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan Indonesia, selalu ada kebiasaan yang membuat puasa kental dengan rasa Indonesia, dimulai ngabuburit menjelang buka dengan tilawah Al Quran serta diskusi kegamaan oleh penceramah yang dihadirkan dari Indonesia, kemudian buka puasa dengan menu yang tentunya sangat bernuansa Nusantara.

Sadar cerita yang akan menjadi kenang-kenangan saat nanti kembali berpuasa di tanah air yaitu suasana guyub diaspora Muslim yang selalu berulang dilaksanakan setiap memasuki ramadannya itu undangan mengisi ifthar dan makan berbuka dan sahur bagijamaah.

Di luar dugaan momen berbuka dan sahur selalu meriah olehhi dangan super lezat sumbangan dari para jamaah Muslim Indonesia maupun muslim Jerman bagi masjid Indonesia. Jangan tanya menu apa saja, yang pasti semua yang biasanya kita temukan di pasar Ramadhan di Simpang Dagoatau Monumen Gasibu dengan mudah saya temukan di masjid. Kolak pisang-ubi dan kolang kaling, es cendol elisabet, candil dan asinan ternyata dengan mudah saya temukan di Berlin saat ramadan.

Kalau melihat meriahnya aneka hidangan sebenarnya tak ada bedanya sensasi berpuasa di Jerman yang sedikit terasa mungkin suara imam sholat yang sebisa mungkin pelan dan sayup-sayup mengingat jam tarawih mendekati pukul 24.00 yang secara aturan ketertiban umum di Berlin tidak boleh mengadakan kegiatan bersuara keras setelah pukul 21.00 pada harikerja danpukul 23.00 pada akhir pekan.

Selebihnya kami menikmatinya dengan sangatIndonesia bahkan tepatnya sangat Sunda mengingat banyaknya jumlah diaspora Sunda yang berada di Berlin.
 


  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES