Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Wacana Autopsi Petugas KPPS, Keluarga: Kasihan Anak Saya

Selasa 14 May 2019 19:40 WIB

Rep: M Fauzi Ridwan/ Red: Teguh Firmansyah

Warga mengangkat jenazah seorang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu serentak 2019 yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk dimakamkan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/4).

Warga mengangkat jenazah seorang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu serentak 2019 yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk dimakamkan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/4).

Foto: Antara/Risky Andrianto
Siti menilai putra meninggal wajar karena kelelahan.

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG -- Sejumlah pihak menginginkan autopsi terhadap petugas penyelenggara pemilu yang meninggal pascapencoblosan. Namun para keluarga korban meninggal menolak jika ada yang meminta agar dilakukan autopsi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebanyak empat orang pengawas tempat pemungutan suara (TPS) di Kabupaten Bandung meninggal diduga karena kelelahan. Mereka yaitu Baginda Sori Muda (28 tahun), pengawas TPS 69, Desa Cileunyi Wetan.

Iwan Hermawan di Cicalengka, Ganjar Faturahman di Baleendah dan Asep Syarif di Rancabali. Selain itu, petugas KPPS Indra Lesmana asal Cicalengka, Kabupaten Bandung meninggal.

Orangtua dari Ganjar Faturahman (26), Asep Sujatma, warga Andir, Kecamatan Baleendah menolak jika ada pihak yang meminta agar anaknya diautopsi. Sebab penyebab anaknya meninggal karena kelelahan dan tidak terdapat sesuatu yang janggal.

"Kasihan mayat sudah lama (dikubur), harus digali lagi. Saya sama sekali gak setuju," ujarnya, Selasa (14/5). Anaknya, menurutnya sudah beristirahat dengan tenang sehingga tidak perlu diganggu dengan cara diautopsi.

Ibu almarhum, Siti menambahkan, anaknya meninggal karena kelelahan saat bertugas selama proses pemilihan umum (pemilu) 17 April lalu. Kondisi saat itu, tengah banjir di pemukiman warga. Sehingga proses kegiatan harus ditempuh ekstra melewati banjir.
"Ibu gak setuju jika makam anak ibu harus dibongkar dan diotopsi. Anak ibu meninggal wajar (kelelahan)," ungkapnya.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA