Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Moeldoko Sebut Isu Petugas KPPS Diracun Menyesatkan

Selasa 14 May 2019 15:03 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Muhammad Hafil

Warga mengangkat jenazah seorang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu serentak 2019 yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk dimakamkan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/4).

Warga mengangkat jenazah seorang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu serentak 2019 yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk dimakamkan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/4).

Foto: Antara/Risky Andrianto
Kemenkes masih melakukan audit medik terhadap ratusan petugas KPPS yang meninggal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko menegaskan penyebab meninggalnya para petugas selama penyelenggaraan pemilu bukan karena racun. Para petugas pemilu tersebut dilaporkan meninggal karena masalah kesehatan.

Hal ini disampaikan Moeldoko usai menggelar rapat koordinasi tentang langkah pemerintah terkait gugurnya petugas KPPS dalam tugas di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa (14/5).

"Tidak ada kematian yang seperti diberitakan, ada kematian yang tidak wajar dicurigai ada racun, tetek bengek ini sebuah pernyataan yang sesat, jadi tidak ada yang seperti itu," tegas Moeldoko.

Ia mengatakan, penyebab meninggalnya petugas pemilu bisa dibuktikan melalui investigasi medis. Karena itu, mantan Panglima TNI itu meminta agar masyarakat tak membuat pernyataan-pernyataan yang membuat suasana pascapemilu semakin kisruh.

"Kematian bisa dibuktikan secara penyakitnya, berikutnya secara usianya dan hal-hal alamiah, jadi ini tolong supaya masyarakat memahami situasi dengan baik, dengan benar, agar tidak menjadi kisruh begitu," ujarnya.

Moeldoko juga meminta agar kasus meninggalnya para petugas pemilu ini tak dibawa ke ranah politik. Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebut mayoritas petugas KPPS yang meninggal berusia di atas 50 tahun hingga 70 tahun.

Berdasarkan data audit medik yang sudah terkumpul dari 25 provinsi, mayoritas para petugas pemilu meninggal karena penyakit jantung dan juga hipertensi.

"Kematian ini ternyata 51 persen disebabkan penyakit cardiovascular atau jantung, termasuk di dalamnya stroke dan infrag, ditambah hipertensi (menjadi) 53 persen. Hipertensi yang emergency bisa menyebabkan kematian, kita masukan dalam cardiovascular," jelas Nila di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa (14/5).

Selain penyakit jantung dan juga hipertensi, Nila menyebut penyebab kematian tertinggi kedua yakni gagal pernapasan. Sedangkan penyebab kematian karena kecelakaan sebanyak sembilan persen.

"Dalam hal ini ada gagal ginjal, ada sakit diabetes melitus, dan juga ada penyakit liver. Liver juga akan menyebabkan hepatitum dan akhirnya menyebabkan kematian," tambahnya.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA