Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Terancam, Kelompok Bantuan Hentikan Kegiatan di Suriah

Ahad 12 May 2019 09:26 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Budi Raharjo

Serangan udara dilancarkan di sekitar Idlib Suriah. (ilustrasi)

Serangan udara dilancarkan di sekitar Idlib Suriah. (ilustrasi)

Foto: Syrian Civil Defense White Helmets via AP
Pasukan pemerintah lakukan pemboman besar-besaran di Idlib selatan sejak akhir April.

REPUBLIKA.CO.ID, IDLIB -- Kelompok-kelompok bantuan yang terkait dengan PBB telah menangguhkan kegiatan di bagian barat laut Suriah. Peningkatan pemboman oleh pemerintah dan Rusia membahayakan keselamatan pekerja kemanusiaan.

"Pada 8 Mei, setidaknya 16 mitra kemanusiaan telah menangguhkan operasi mereka di daerah-daerah yang terkena dampak konflik," sebut kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau OCHA, dilansir Aljazirah, Sabtu (11/5).

Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan telah menangguhkan pengiriman ke sekitar 47 ribu orang di kota dan desa yang telah dibombardir. Dari akhir April, pasukan pemerintah telah melakukan pemboman besar-besaran di Idlib selatan dan daerah-daerah tetangga dengan dukungan Rusia.

OCHA menyatakan, serangan udara dan penembakan di wilayah yang didominasi oleh mantan Alqaidah Suriah telah membuat 180 ribu orang terlantar antara 29 April dan 9 Mei. Ini juga mempengaruhi 15 fasilitas kesehatan, dan 16sekolah. "Beberapa organisasi menangguhkan aktivitas karena bangunan mereka dirusak, dihancurkan atau dianggap tidak aman oleh kekerasan," sebut OCHA.

"Yang lain telah menangguhkan kegiatan untuk menjaga staf dan penerima manfaat mereka aman, atau karena populasi penerima telah pergi," tambahnya.

OCHA menyatakan lima pekerja kemanusiaan, termasuk dua profesional kesehatan, dilaporkan telah tewas karena serangan udara dan penembakan. WFP juga menyamppaikan beberapa mitranya di dalam Idlib telah dipindahkan karena kekerasan, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka.

Lebih jauh, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa pada 5 Mei, tiga petugas kesehatan terbunuh ketika dua rumah sakit besar dan satu fasilitas lainnya terkena serangan.

Pada Kamis, ketua Komisi Penyelidikan PBB untuk Suriah, Paulo Pinheiro, memperingatkan bahwa konflik habis-habisan di kubu besar pemberontak terakhir di provinsi Idlib, dapat menghasilkan bencana hak asasi manusia. Selain itu juga menimbulkan bencana kemanusiaan yang tak terbayangkan.

Perang saudara di Suriah telah menewaskan lebih dari 370 ribu orang, dan membuat jutaan orang terlantar sejak dimulai dengan penindasan brutal terhadap protes anti-pemerintah pada 2011.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA