Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Legislator Venezuela Melarikan Diri Akibat Intimidasi

Sabtu 11 May 2019 09:16 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

Nicolas Maduro

Nicolas Maduro

Foto: EPA-EFE/Miguel Gutierrez
Legislator Venezuela menerima intimidasi dari agen intelijen pemerintah.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS — Seorang legislator Venezuela yang berasal dari oposisi pemerintah dilaporkan melarikan diri ke negara tetangga Kolombia pada Jumat (10/5). Sementara itu, sejumlah legislator lainnya mengatakan bahwa mereka mengalami berbagai intimidasi. 

Baca Juga

Intimidasi itu mulai dari mendapatkan pesan ancaman, hingga rumah mereka yang dicoret-coret seperti halnya vandalisme. Tak hanya itu, banyak legislator oposisi Venezuela yang merasa telah diikuti oleh agen intelijen pemerintah. 

Hal itu seluruhnya terjadi menyusul langkah Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang nampaknya hendak menumpas oposisi dalam kongres negara itu. Beberapa waktu lalu, Pengadilan Tinggi menuding 10 legislator dalam kongres melakukan pengkhianatan. Mereka disebut berpartisipasi dalam upaya pemberontakan yang gagal dilakukan pada awal bulan ini. 

Luis Florido, salah satu anggota parlemen yang dituduh melakukan pengkhianatan mengatakan bahwa ia pergi ke Kolombia untuk menghindari penangkapan yang mungkin dilakukan. Melalui media sosial, ia menuturkan bahwa hal itu telah dipertimbangkan, setelah berdiskusi dengan sejumlah rekan. 

“Saya berkonsultasi dengan banyak teman sebelum meninggalkan Venezuela dan mereka semua mengatakan bahwa saya tidak boleh membiarkan mereka menangkap dan saya seharusnya tidak memberikan trofi kepada rezim pemerintah,” ujar Florido pada Jumat (10/5).

Sementara itu, pada Rabu (8/5) lalu, pasukan keamanan Venezuela menangkap legislator Edgar Zambrano, yang juga diketahui wakil pimpinan badan legislatif National Assembly. Ini adalah penangkapan pertama yang dilakukan sejak pemberontakan yang diprakarsai kepala oposisi Venezuela Juan Guaido, selaku pimpinan National Assembly terjadi. 

Zambarano dibawa ke markas badan intelijen Sebin dengan menggunakan truk derek. Saat ini, ia telah dipindahkan ke penjara di pangkalan militer Fuerte Tiuna di Ibu Kota Caracas. 

Penangkapan lebih lanjut dikhawatirkan dapat melumpuhkan fungsi legislatif lebih lanjut, yang telah menjadi bagian penting dari strategi oposisi untuk menggulingkan Maduro. Dua legislator Venezuela lainnya juga dilaporkan telah berlindung di Kedutaan Besar Italia, meski tak berada di antara daftar legislator yang melakukan makar. 

Venezuela telah dilanda krisis dan kekacauan, seiring kondisi ekonomi di negara itu yang saat ini dilanda hiperinflasi. Pemerintahan Maduro dianggap telah menciptakan situasi yang semakin buruk dengan kebijakan sosialis yang ia terapkan, serta pendahulunya mantan presiden Hugo Chavez. 

Gelombang protes untuk menuntut kepemimpinannya telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi semakin memburuk pada awal tahun ini, ketika Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela. 

Setidaknya 50 negara, termasuk AS telah mengakui Guaido sebagai pemimpin Venezuela. Namun, Rusia dan beberapa negara lainnya telah menolak klaim tersebut dan mengatakan Maduro, serta pendahulunya Chavez sebagai pemimpin negara yang sah.

Dalam sebuah langkah terbaru untuk menggulingkan Maduro, oposisi hendak melakukan upaya kudeta awal bulan ini. Dalam sebuah rekaman video yang diunggah melalui jejaring sosial Twitter, Guaido terlihat berpidato di pangkalan militer La Carlota di Caracas. Ia menyerukan kepada semua elemen, secara khusus angkata bersenjata Venezuela untuk mendukung dilakukannya perebutan kekuasaan dengan upaya kudeta pada Rabu (1/5). 

Namun, militer tidak bergabung dengan pemberontakan tersebut. Pihak berwenang Venezuela kemudian mengatakan bahwa upaya kudeta telah digagalkan. Berdasarkan laporan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, rencana kudeta yang berujung dengan bentrokan telah menyebabkan setidaknya 240 orang terluka.

Dalam sebuah pernyataan terbaru pada Jumat (10/5), Maduro mengatakan bahwa Cristopher, mantan kepala badan intelijen Sebin dan seorang jenderal militer sebagai pengkhianat. Maduro meyakini bahwa Cristoper membantu merencanakan pemberontakan tersebut dan saat ini telah meninggalkan Venezuela, serta menawarkan dukungan kepada oposisi. 

“Dia (Cristopher) meninggalkan pasukannya sendirian, dia melarikan diri pada pagi hari dan masih bersembunyi,” ujar Mduro.

Maduro mengatakan ia memiliki kepercayaan penuh pada Menteri Pertahanan Vladimir Padrino dan kepala Mahkamah Agung Maikel Moreno. Meski demikian, dua pejabat Venezuela tersebut menurut AS telah terlibat dalam rencana menggulingkan pemerintah. Namun, mereka juga yang memperingatkan rencana kudeta itu, satu pekan sebelumnya. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA