Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

 

Nikmatnya Awug untuk Buka Puasa

Jumat 10 May 2019 17:31 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Indira Rezkisari

Makanan khas sunda, Awug.

Makanan khas sunda, Awug.

Foto: Republika/Hartifiany Praisra
Awug Cibeunying boleh jadi awug paling populer di Bandung,

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Siapa yang tidak kenal Awug? Makanan tradisional khas Sunda ini memang menjadi salah satu kudapan yang cocok untuk buka puasa.

Awug adalah panganan yang terbuat dari beras dengan isi gula merah didalamnya. Dimasak dengan cara mengkukus, membuat wangi dari awug bisa mengganggu iman yang sedang berpuasa.

Salah satu pedagang yang menjual awug adalah Ajang Muhidin. Ajang memberi nama Awug Cibeunying, nama yang tidak asing bagi warga Kota Bandung.

Ajang mengawali dari jualan keliling dengan menggunakan gerobak. Kini Awug Cibeunying sudah menetap di sebuak kos yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung. Awug Cibeunying memiliki rasa yang berbeda dari wug lainnya.

"Kadi bahannya harus  bagus, gulanya juga tidak asal ambil. Jadi jangan kepancing harga murah tapi tidak enak," kata Ajang saat ditemui Republika, Rabu (8/5).

Ajang menerangkan bagaimana cara membuat awug. Pertama-tama, beras direndam selama satu malam. Kemudian digiling dan dikukus setengah matang.

Beras setengah matang ini kemudian dikukus lagi bersama gula aren dengan menggunakan aseupan.  Baunya yang khas dari aroma gula dan beras dari kukusan membuat pembeli tergoda.

Ajang memberikan sedikit tips untuk pembeli awug. Menurutnya, awug paling nikmat dimakan saat keadaan panas. Tapi bukan berarti awug tidak bisa dimakan dalam keadaan dingin.

photo
Makanan khas sunda, Awug.



"Beli sekarang, makan sekarang, jangan disimpan. Saya anjurkan jangan disimpan, karena ini tanpa bahan pengawet," katanya.

Awug juga terkenal dengan makanan pendampingnya. Diantaranya adalah gemblong, surandil, klepon, lupis, putu mayang, kue cucur, dan lainnya.

Makanan pendamping ini juga dibuat sendiri oleh Ajang. Sehingga semua makanan ini disajikan dalam keadaan masih baru dan hangat.

"Rasanya tetap sama dari dulu, jadi jangan ambil banyak untuk tapi tidak laku. Itu alasan kenapa Awug Cibeunying bertahan," katanya.

Awug dan kudapan pendampingnya dijual dengan harga mulai dari Rp 10 ribu per dus. Awug juga bisa dijual dalam seperti bentuk tumpeng dengan harga Rp 300 ribu per nampan.

Selama bulan puasa, Awug Cibeunying buka dari pukul 14.00-21.00. Sementara di bulan lainnya, Awug Cibeunying buka dari pukul 07.00-21.00.

Awug Cibeunying memiliki resep turun temurun dari orang tua Ajang, Haji Jaluli. Kemudian Ajang menjualnya dengan gerobak berkeliling daerah Cibeunying sejak tahun 80an.

Setelahnya, Ajang membuat kios PKL di sebelah Apotek Cibeunying. Sejak saat itulah, nama Awug Cibeunying kemudian melekat dengan sendirinya.

"Dari gerobak keliling terus menetap di sebelah apotek Cibeunying. Lalu sempat pindah-pindah di sekitar sini sampai alhamdulillah sudah di kios ini selama tiga tahun," kata Ajang.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA